Friday, July 24, 2026
Home Blog Page 73

Kembali jadi sutradara, Sunil Soraya lahirkan calon film ikonik “Catatan Harian Menantu Sinting”

0

Kaset.id – Pernah ngerasain hidup bersama pasangan di rumah mertua? Pernah ngerasain ibu mertua ikut campur dalam kehidupan rumah tangga kita? Nah konflik seperti itulah yang diangkat menjadi sebuah karya film oleh Sunil Soraya dan Soraya Intercine Films dalam film berjudul “Catatan Harian Menantu Sinting”.

Sunil Soraya

Di angkat berdasarkan novel karya Rosi L. Simamora., film “Catatan Harian Menantu Sinting” sekaligus menandakan kembalinya Sunil Soraya selaku produser merangkap sutradara setelah hampir 5 tahun hanya bertindak sebagai produser tanpa pernah menyutradarai film apapun

Di film “Catatan Harian Menantu Sinting” ini Sunil sangat serius dalam penggarapannya dan ini terbukti dengan banyaknya hal – hal detail yang Sunil lakukan dalam proses kreatif pembuatan film ini. Sunil Soraya butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk merampungkan cerita ini karena tidak mudah menterjemahkan cerita novel yang diangkat ke dalam suatu visual film dimana setiap inci suatu adegan sangat diperhitungkan.

Bagi Sunil Soraya membuat suatu film harus melihat dari seluruh aspek dan dari hati sehingga menghasilkan suatu maha karya, seperti sebelumnya film 5 cm dan terbukti diterima oleh masyarakat yang ditandai dengan meraih jutaan penonton. Film “Catatan Harian Menantu Sinting” melibatkan Raditya Dika dan Ariel Tatum yang dipasangkan menjadi pasangan yang nampaknya cukup menarik untuk di saksikan aktingnya.

“Catatan Harian Menantu Sinting” merupakan cerita yang sangat dekat dalam kehidupan kita terutama di masyarakat Batak. Kejelian Sunil Soraya melihat cerita ini membuat semangatnya menggebu – gebu untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dari mulai membedah skenario, pemilihan pemain sampai sutradara pun dilakukan sendiri karena Sunil Soraya tidak ingin melewatkan setiap jengkal dari proses film ini.

Sinopsis

“Catatan Harian Menantu Sinting” menceritkan tentang Minar (Ariel Tatum) dan Sahat (Raditya Dika) yang harus hidup seatap dengan Mamak Mertua (Lina Marpaung) dalam latar belakang keluarga besar Batak yang penuh drama.

Minar dan Sahat punya kepercayaan berbeda tentang cinta dengan sang Mama Mertua. Buat Minar dan Sahat, cinta adalah quality time dan komunikasi. Sedangkan buat Mamak Mertua, cinta adalah kehadiran anak laki-laki di tengah pernikahan sebagai penerus marga.

Karena itu, sejak awal pernikahan, Mamak Mertua tidak pernah bosan menagih Minar dan Sahat untuk memberikan seorang cucu laki-laki. Dan karena belum punya cukup uang, terpaksa Minar dan Sahat tinggal di rumah Mamak Mertua dan dihadiahi ranjang peninggalan Opungnya Sahat.

Ranjang itu disebut ‘Ranjang Keramat’ oleh Mamak Mertua, karena satu minggu tidur di ranjang itu dia langsung hamil Monang, anak pertamanya. Minar punya sebuah agenda. Minar mau mengajak Sahat keluar dari rumah Mamak Mertua memiliki rumah sendiri tanpa campur tangan Mamak Mertua.

Tapi, apa mungkin Mamak Mertua mengijinkan Minar dan Sahat keluar dari rumahnya sebelum mereka memberikan Mamak Mertua seorang cucu laki-laki?

Film “Catatan Harian Menantu Sinting” akan segera tayang di bioskop kesayangan Anda mulai 18 Juli 2024.

Tayang di MAXStream 28 juni 2024, serial “Sehati Semati” angkat kisah teror menegangkan

0

Kaset.idSinemaku Pictures mempersembahkan karya segar terbarunya melalui serial bergenre misteri-thriller-drama “Sehati Semati” yang menjadi Original Series MAXStream, disutradarai oleh sutradara muda Yusuf Jacka Ardana. Serial “Sehati Semati” tayang di MAXStream mulai 28 Juni 2024.

Dalam serial berjumlah enam episode ini, akan mengikuti kisah tentang Lima sahabat Sheila, Tio, Fina, Rega, dan Acel terjebak dalam sebuah permainan papan (gameboard) kuno yang misterius bernama SURRA. Tanpa mengetahui asal-usul dan tata cara bermain SURRA, kelimanya mendapat teror yang mengancam nyawa dan terjebak dalam dunia paralel. Tio mengalami koma setelah memainkan SURRA. Mereka berusaha mencari pemain sebelumnya untuk mengungkapkan misteri permainan tersebut.

Serial “Sehati Semati” dibintangi oleh Yasamin Jasem sebagai Sinta, Megan Domani sebagai Sheila, Abun Sungkar sebagai Tio, Dianda Sabrina sebagai Fina, Ciccio Manassero sebagai Rega, dan Ashira Zamita sebagai Acel. Selain mereka, “Sehati Semati” juga dibintangi oleh Imelda Therinne, Johan Morgan, Tegar Satrya, dan Bizael Tanasale.

Yahni Damayanti, Prilly Latuconsina, dan Umay Shahab menjadi produser eksekutif untuk serial “Sehati Semati.” Serial “Sehati Semati” menjadi original series pertama pada 2024 yang diproduksi Sinemaku Pictures bersama MAXStream. Disutradarai Yusuf Jacka Ardana, serial “Sehati Semati” juga menjadi bentuk komitmen Sinemaku Pictures untuk terus memberikan ruang berkarya bagi para sineas muda. Jacka sebelumnya telah menggarap beberapa film pendek. Beberapa karyanya menjadi official selection dan ditayangkan di beberapa festival film nasional dan internasional, seperti Minikino Film Week, Jakarta Film Week, dan Festival Film Dokumenter.

“Serial “Sehati Semati” merupakan original series pertama kami tahun ini bersama MAXStream. Setelah merilis film horor “Temurun” kami melanjutkan kesuksesan dan semakin mendalami genre ini melalui “Sehati Semati” yang akan memberikan penonton tayangan yang penuh menegangkan dengan teka-teki misteri dari sebuah gameboard kuno yang misterius bernama SURRA. Di game ini, akan ada beberapa peraturan yang akan berpengaruh ke pemainnya. Dengan alur cerita yang menarik, ini akan membuat penonton mengikuti pertualangan lima sahabat yang terjebak teror sampai mengetahui akhirnya,” kata Produser Eksekutif “Sehati Semati” Prilly Latuconsina.

“Saya merasa bersyukur dan terima kasih untuk Sinemaku Pictures karena telah mempercayakan saya untuk mengerjakan “Sehati Semati.” Ini menjadi proses belajar yang penting dan berarti bagi saya. Syuting bersama kru dan cast terasa menyenangkan. Semoga penonton Indonesia bisa menikmatinya mulai 28 Juni 2024 di MAXStream,” tambah Sutradara “Sehati Semati” Yusuf Jacka.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang MAXStream Original Series “Sehati Semati” yang diproduksi Sinemaku Pictures di akun Instagram resmi @sinemaku.pictures dan @maxstream.tv. “Sehati Semati” tayang di MAXstream mulai 28 Juni 2024.

“Can Machines Fall In Love?” jadi album penuh rasa dari Maliq & D’Essentials

0

Kaset.idMALIQ & D’Essentials merilis album baru yang diberi judul “Can Machines Fall In Love?” pada hari ini, diakhir Mei 2024 lalu. Album ini merupakan album kesembilan setelah terakhir meluncurkan mini album ‘Raya’ di tahun 2021. Terdapat total tujuh nomor di dalamnya termasuk 2 single yang sudah rilis lebih dulu seperti “Intro, Dadidu di Dada, Aduh, Terus Terang, Kita Bikin Romantis, Begini Begitu, dan “Hari Terakhir“.

“Can Machines Fall In Love?”merupakan karya MALIQ & D’Essentials yang terdiri dari personil Angga Puradiredja, Widi Puradiredja, Indah Wisnuwardhana, Jawa, Lale, dan Ilman Ibrahim. Album ini memakan proses produksi selama hampir satu tahun.

“Ini merupakan satu album penuh “rasa”, yang ditulis dengan segenap jiwa, raga, hati & emosi kami saat ini,” kata mereka dalam siaran pers tertulisnya.

MALIQ & D’Essentials membocorkan perbedaan utama dalam pembuatan album ini yaitu pada penulisan lirik lagu-lagu dan pilihan aransemen musik yang dipilih mengalir apa adanya.

“Kami enggak terlalu mikir sebenarnya dari sisi lirik album ini akan jatuh cinta, apakah akan sedih-sedihan. Kami on the spot aja semuanya, apa yang relevan di anak-anak. Hampir semua lirik itu enggak ada yang datang mentahan. Pasti semua anak-anak relate sama penulisannya. Kalau dari sisi aransemen mengacu album 1-4. Kira-kira begini jenis musik MALIQ,” kata Widi.

Pemilihan nama album, katanya lagi, merupakan wujud dari pengalaman MALIQ pribadi selama mengerjakan album di tengah kecanggihan teknologi salah satunya pengaruh AI (Artificial Intelligence, red) bisa mempengaruhi kreativitas, cara bekerja, dan cara berproduksi.

“Kami tidak membenci teknologi, namun menganggap perasaan masih suatu hal yang terkuat untuk sampai ke pendengar dan kami belum merasakan teknologi bisa menggantikannya,” jelas Widi.

Sejak menggelar konser tunggal Mei 2023 lalu, MALIQ terbukti semakin produktif. Selain album baru, mereka sudah merencanakan banyak hal tahun ini. Indah, personil lainnya menambahkan,

“Setelah bersama lebih dari 20 tahun dengan membawa suasana pop penuh harmoni dan cerita-cerita full of love, hope, and joy. And keepin’ us in the groovy emotion is blessing. This is what we feel about this album,” tutup Indah.

Sebagai informasi tambahan, ‘Kita Bikin Romantis’ merupakan single kedua yang dikeluarkan MALIQ D’Essentials sejak kembali bekerjasama dengan Warner Music Indonesia dan sudah di streams lebih dari 25 juta kali di Spotify. Lagu ‘Aduh’ yang dirilis di bulan November 2023 sudah di-stream lebih dari 38,3 juta kali di Spotify. Sementara official music video ‘Aduh’ sudah ditonton lebih dari 5,3 juta di youtube dan video ‘Kita Bikin Romantis’ sebanyak 3 juta views.

MALIQ merilis album pertama hingga keempat bersama dengan Warner Music Indonesia sebelum berjalan dengan Organic Records. Sebelum ini beberapa hits lagu MALIQ dibawakan oleh beberapa musisi Warner Music seperti “Untitled” oleh Rahmania Astrini, “Dia” oleh Eclat, “Terdiam” oleh Chintya Gabriella, “The One” oleh Jevin Julian, Kara Chenoa, dan Jinan Laetitia, dan “Heaven” oleh Rafi Sudirman.

‘Can Machines Fall in Love?’ sudah bisa didengar di seluruh digital streaming platforms di Indonesia. Official Lyric Video untuk semua lagu juga bisa ditonton di kanal youtube MALIQ & D’Essentials.

Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” bagikan first look nya

0

Kaset.id – Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” persembahan Sinemaku Pictures yang disutradarai Reka Wijaya merilis tampilan perdananya (first look). Memperlihatkan Prilly Latuconsina dengan penampilan yang sangat berbeda dari karakter biasanya yang ia perankan dalam film. Dalam first look “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” Prilly terlihat dengan wajahnya yang berjerawat dan ia mengenakan behel gigi.

Dalam first look, juga diperlihatkan Dikta yang selalu dekat bersama Prilly Latuconsina. Selain keduanya, beberapa wajah yang muncul dalam first look di antaranya adalah Kristo Immanuel, Shania Gracia, Widi Mulia, dan Ummi Quary. Kelimanya tengah berada dalam sesi konsultasi grup. Dalam first look juga terlihat Antonio Blanco, Dominique Sanda, dan Surya Saputra. Dominique dan Surya akan menjadi orangtua Prilly. Dari unggahan foto-foto first look tersebut, disebutkan pula film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” akan segera tayang pada tahun 2024 ini. Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” akan menjadi film Sinemaku Pictures yang bisa mewakili perasaan penonton yang suka menyimpan pedih sendiri.

Selain berperan, Prilly Latuconsina juga memproduseri film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” bersama Yahni Damayanti dan Umay Shahab. Film ini akan menjadi judul kedua yang dirilis Sinemaku Pictures tahun ini di bioskop setelah film horor “Temurun.”

“Dari first look yang kami bagikan melalui akun Instagram @sinemaku.pictures, kami ingin membagikan ke penonton dan mengenalkan para karakter serta dunia mereka di film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis.” Semoga disambut dengan baik dan saat filmnya tayang penonton Indonesia bisa merasa terkoneksi dengan para karakter yang ada di film ini yang memiliki permasalahan mereka masing-masing,” kata Produser dan pemeran “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” Prilly Latuconsina.

Secara berkala, film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” akan terus merilis informasi-informasi terbaru tentang jajaran aktor-aktris dan karakter-karakternya, sinopsis, dan hal lainnya melalui akun media sosial Sinemaku Pictures.

Begini latar belakang para Duta FFI 2024

0

Kaset.id – Komite FFI 2024–2026 mengumumkan nama-nama Duta FFI 2024. Mereka adalah Slamet Rahardjo Djarot, Dian Sastrowardoyo, Kamila Andini, Lutesha Sadhewa, dan Bryan Domani. Kelima nama tersebut merupakanpara insan film yang telah berprestasi di dunia film, berlatar dari berbagai unsur dan lintas generasi. Kelimanya akan memperkenalkan dan menggaungkan tema FFI 2024: “Merandai Cakrawala Sinema Indonesia.” Penunjukkan kelima nama juga menjadi wujud konkret dari pemaknaan tema FFI 2024, menunjukkan kolaborasi yang dilambari oleh spirit kesetaraan dalam membangun ekosistem perfilman Indonesia yang kreatif, inovatif, inklusif dan produktif.

Slamet Rahardjo Djarot merupakan aktor, sutradara, dan penulis skenario yang telah berkarya selama kurun 50 tahun lebih. Pengalamannya berakting membuatnya dikenal sebagai seorang profesional yang serba bisa bahkan hingga sekarang. Slamet Rahardjo Djarot akrab sudah malang melintang di dunia teater, sinema, seni pertunjukan, dan termasuk salah satu tokoh yang paling berpengaruh di industri film Indonesia. Sepanjang karirnya, Slamet Rahardjo Djarot sudah mendapatkan banyak penghargaan Piala Citra untuk Aktor Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, Penata Musik terbaik, Penulis Skenario Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Nama yang lekat dengan karakter Cinta dalam “Ada Apa Dengan Cinta?” (2002), Dian Sastrowardoyo memulai debut perannya lewat film “Bintang Jatuh” (2000). Pada 2001, ia tampil memukau lewat perannya sebagai Daya di “Pasir Berbisik” (2001) dan berhasil mengantarkannya mendapat berbagai penghargaan internasional, di antaranya pemenang Silver Screen Award Best Actress di Singapore International Film Festival dan pemenang Lotus Best Actress di Deauville Asian Film Festival.

Hingga kini ia masih aktif membintangi berbagai judul film termasuk serial hit “Gadis Kretek” yang melekatkan namanya dengan karakter Jeng Yah. Selain berperan, Dian juga mengasah kepenulisan dan penyutradaraan lewat Omnibus “Quarantine Tales” untuk segmen “Nougat” (2020) dan film pendek “Dini Hari” (2022). Dian telah dinominasikan empat Piala Citra FFI untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik dengan satu kemenangan lewat film “Ada Apa Dengan Cinta?” (2022)

Sutradara wanita berbakat bernama Kamila Andini sudah mendapatkan banyak penghargaan untuk berbagai karya filmnya. Debut penyutradaraannya dimulai pada film “Rahasia Dibalik Cita Rasa” (2002). Pada tahun 2011, Kamila Andini memenangkan Piala Citra kategori Cerita Asli Terbaik untuk filmnya “The Mirror Never Lies” (2011), yang juga mendapatkan penghargaan internasional seperti Festival Film Internasional Tokyo, Festival Film Internasional Hongkong, dan Festival Film Internasional Berlin. Melalui filmnya “Sekala Niskala” (2018), Kamila Andini mendapatkan nominasi Piala Citra di Festival Film Indonesia 2018, serta nominasi di banyak festival film internasional.

Nama Luthesa Sadhewa atau yang lebih dikenal dengan Lutesha adalah seorang aktris yang mengawali karirnya dalam film pendek berjudul “The Junk Society” (2012). Sarjana Sastra Belanda dari Universitas Indonesia ini telah memerankan banyak film sepanjang karirnya, dan turut berperan aktif di industri film Indonesia, seperti menjadi duta merek untuk ajang Jakarta Film Week tahun 2023. Lutesha pernah mendapatkan nominasi nominasi Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di FFI 2023 untuk perannya pada film “The Big 4” (2022).

Aktor muda berbakat Bryan Domani lebih dulu tenar lewat peran-perannya di serial televisi. Ia kemudian mendapat kepercayaan bermain film layar lebar dan kini namanya selalu menjadi andalan para produser dan sutradara. Ia di antaranya membintangi judul-judul film blockbuster seperti “Miracle in Cell no. 7” (2022), “Ketika Berhenti di Sini” (2023), dan “172 Days” (2023). Dengan basis massa yang dimilikinya, diharapkan nama Bryan sebagai Duta FFI 2024 juga mampu meluaskan khazanah sinema dan memperkenalkan perhelatan FFI 2024 ke Gen Z dan Gen Alpha.

“Nama-nama Duta FFI 2024 merefleksikan kolaborasi lintas generasi di industri sinema Indonesia. Mereka juga merupakan nama yang karya-karyanya mendapat pengakuan secara penghargaan kritis dan penerimaan penonton. Kami berharap, dengan ditunjuknya kelima nama sebagai Duta FFI bisa meluaskan khazanah sinema Indonesia di seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” kata Ketua Komite FFI 2024–2026 Ario Bayu.

Sebelumnya telah dibentuk kepengurusan Komite FFI periode 2024–2026, yang diketuai oleh Ario Bayu. Komite FFI 2024–2026 adalah Ario Bayu (Ketua Komite), Prilly Latuconsina (Ketua Pelaksana), Budi Irawanto (Ketua Bidang Penjurian), Mandy Marahimin (Ketua Sekretariat), Gita Fara (Ketua Bidang Keuangan dan Pengembangan Usaha), Pradetya Novitri (Ketua Bidang Acara), Nazira C. Noer (Ketua Humas Acara), dan Michael Ratnadwijanti (Ketua Humas Penjurian).

Para Anggota Komite FFI 2024–2026 dan Duta FFI 2024 akan berkomitmen mendorong proses kolaborasi sehingga dapat menemukan peluang dan potensi baru di industri film Indonesia. Kolaborasi juga menjadi jiwa dan landasan utama dari FFI 2024. Ikuti informasi terbaru Festival Film Indonesia 2024 melalui kanal media sosial resmi FFI di Instagram @festivalfilmid dan situs resmi di festivalfilm.id.

 Joe Satriani dan Steve Vai rilis video musik single “The Sea Of Emotion”

0

Kaset.id – Apa jadinya ketika 2 gitaris ternama bersatu untuk membuat sebuah karya.Dua gitaris asal Amerika Serikat,  Joe Satriani dan Steve Vai telah merilis single video musik resmi untuk lagu kolaborasi pertama dari tiga bagian atau trilogi mereka, “The Sea Of Emotion”.

Video musik untuk lagu “The Sea Of Emotion” dikerjakan oleh putra Joe Satriani, ZZ Satriani dan mengingatkan awal persahabatan Satriani dan Vai selama 50 tahun. Hasilnya digambarkan sebagai “banyak kehebatan dan perjalanan kembali ke tahun 70an.”

Dilansir dari Blabbemouth, Joe Satriani yang kelahiran New York, 17 Juli 1956 mengatakan tentang inspirasi lagu tersebut: “Ketika Steve dan saya memutuskan bahwa waktunya telah tiba bagi kami untuk berkolaborasi dalam sebuah album, saya langsung memikirkan awal mula kami yang sederhana, dari mana kami berasal, dan harapan serta impian rock ‘n’ roll remaja kami. Bagi orang lain, ini mungkin terlihat seperti sebuah lapangan, bagian dari kompleks Sekolah Umum Carle Place yang luas, namun bagi sebagian dari kita, di awal tahun 70-an, ketika matahari terbenam dan bulan terbit, [ladang itu ] menjadi ‘The Sea Of Emotion’. Kami akan nongkrong di sana hingga larut malam dan berbagi pemikiran terdalam kami. Kenangan yang kami bagikan di lokasi itu dulu sekali menjadi inspirasi perjalanan musik dalam tiga bagian. Setiap bagian dari lagu tersebut memiliki sedikit pengingat tentang apa yang kami sukai dalam bermusik saat itu, termasuk urutan akord yang kadang-kadang saya dan Steve ikuti selama pelajaran gitar.”

Sementara Steve Vai yang juga lahir di New York pada 6 Juni 1960 menambahkan: “Sebagai remaja muda, kami akan duduk memandangi ladang yang luar biasa ini dan mengobrol selama berjam-jam tentang makna kehidupan dan banyak diskusi mendalam dan kaya lainnya. Kami menganggap bidang ini sebagai ‘Lautan Emosi’: 50 tahun kemudian, bidang ini telah diabadikan dalam melodi dan alur. Terhubung dengan Joe di lagu ini, dan musik lain yang sedang kami kerjakan, mungkin merupakan kolaborasi musik paling bermanfaat yang pernah saya lakukan. Meskipun kami telah melakukan tur dan merekam lagu bersama selama beberapa dekade, untuk musik ini kami dengan erat menyatukan impuls melodi dan teknik permainan kami dan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari sekedar gabungan bagian-bagiannya.”

Joe Satriani dan Steve Vai membawakan “The Sea Of Emotion, Pt. 1” secara live untuk pertama kalinya pada awal tur bersama mereka pada tanggal 22 Maret di Hard Rock Live di Orlando, Florida dan berlanjut untuk tur dengan mengusung nama “Satch/Vai” yang berlangsung mulai bulan Mei 2024.

Dalam wawancara tahun 2022 dengan LifeMinute, Seteve Vai merefleksikan pembelajarannya di bawah bimbingan Joe Satriani saat masih muda dan bagaimana pelajaran tersebut menginspirasinya dalam bermusik sejak tahap awal,

“Saya bahkan tidak dapat membayangkan seperti apa hidup saya tanpa dia. Ketika saya berusia 12 tahun, seorang teman saya, John Sergio, yang merupakan teman kami saat kami memakai popok, juga merupakan mentor yang hebat, karena dia memperkenalkan saya pada semua musik yang tidak saya sadari – rock progresif dari tahun 70an. Dia membawa saya ke konser Queen pertama saya. Dia membawa saya ke bandnya; itu adalah band pertama yang saya ikuti ketika saya berusia 13 tahun. Dia telah menjadi teman baik. [Dia memiliki] selera musik yang luar biasa. Dan dia bermain gitar ketika saya berusia 12 tahun, dan saya tidak dapat mempercayainya, karena dia tinggal dua rumah jauhnya. Dan kemudian dia berkata, ‘Jika menurut Anda saya ‘Bagus, kamu harus menemui guru gitarku, Joe Satriani.’ Jadi dia memberi saya nomor telepon Joe, dan saya mulai mengambil pelajaran. Dan pelajaran saya dengan Joe adalah yang terpenting bagi saya.

“Ketika saya melihatnya bermain, ketika saya berumur 12, 13, 14, 15, 16, semua yang dia sentuh pada alat musik itu terdengar seperti musik. Saat keluar dari jarinya, itu terdengar bagus; terdengar seperti ada jiwa di dalamnya. Itu bukan sekedar ketiadaan, semacam latihan akademis dan hal-hal seperti itu. Maksud saya, kami melakukan beberapa dari itu; itu bagian dari pelatihan… Jadi saya selalu menghargai itu. Dan tetap saja, dia sangat solid dan dia sangat musikal. Telinga musik batinnya terinspirasi, bahwa dia terus menjadi inspirasi sepanjang hidupku.” tambah Steve Vai.

Penulis : Qenny Alyano by Bolehmusik.com

Glenn Samuel mengagumi pasangannya melalui single “Nona Manis”

0

Kaset.id – Musisi berbakat Glenn Samuel kembali menggebrak dunia musik dengan single terbarunya yang berjudul “Nona Manis“. Lagu ini dirilis secara resmi pada tanggal 30 Mei 2024 lalu dan siap memanjakan para penggemar musik R&B di seluruh Indonesia.

Lagu “Nona Manis” merupakan karya terbaru Glenn Samuel, yang keempat dalam perjalanan karier solonya setelah memutuskan untuk berkarya secara independen. Diciptakan oleh Glenn Samuel sendiri, lagu ini mengusung genre R&B yang kental dengan nuansa romantis dan melodi yang memikat.

“Nona Manis” terinspirasi dari perspektif seseorang yang tengah mengagumi pasangan hidupnya yang sangat cantik dan manis. Lagu ini menggambarkan kekaguman tidak hanya pada paras, tetapi juga pada kepribadian pasangan yang dianggap “manis” dan “sempurna”.

Glenn menyampaikan bahwa lagu ini bukan sekadar lagu cinta, tetapi juga sebagai representasi betapa cantik dan manisnya wanita-wanita dengan kulit lebih gelap. Ia menggunakan istilah “Nona Manis” yang berasal dari bahasa daerah timur Indonesia untuk menggambarkan pesona wanita-wanita dari daerah asalnya. Branding lagu ini adalah “Coklat Bar” yang melambangkan keindahan dan kemanisan wanita berkulit coklat.

Lagu “Nona Manis” diproduseri oleh Glenn Samuel sendiri, dengan kolaborasi bersama Juan Mandagie, Tjdika, dan Devinza Kendranata yang dikenal sebagai gitaris Raisa dan Agnez Mo. Proses produksi yang matang dan kolaborasi dengan musisi-musisi berbakat menjadikan lagu ini memiliki kualitas yang tinggi dan siap bersaing di industri musik.

Glenn berharap lagu “Nona Manis” dapat menyentuh hati para pendengarnya, terutama para “Nona Nona Manis” di luar sana, agar mereka semakin menyadari betapa cantik dan manisnya diri mereka. Lagu ini juga menjadi pengingat bagi para pria betapa beruntungnya mereka memiliki seorang “Nona Manis” dalam hidup mereka.

Sebagai langkah awal, Glenn akan merilis video lirik untuk lagu ini, sementara video musiknya akan menyusul kemudian. Video lirik ini diharapkan dapat membantu para penggemar untuk lebih memahami dan meresapi makna dari setiap lirik yang disampaikan.

“Semoga lagu ini dapat sampai kepada Nona Nona manis diluar sana supaya nona nona bisa sadar betapa cantik dan manisnya mereka sampai bisa memikat hati siapapun yang melihatnya, dan sebagai reminder betapa beruntungnya nyong-nyong (para pria) diluar sana yang mendapatkan seorang Nona Manis!” Tutup Glenn.

Single “Nona Manis” sudah bisa disimak di platform musik digital kesayangan Anda.

Simak kolaborasi apik Sandhy Sondoro dan Dwiki Dharmawan di single remake “Gemilang”

0

Kaset.id – Dua musisi beda jaman yaitu “Dwiki Dharmawan” dan “Sandhy Sondoro” berkolaborasi dalam sebuah proyek musikal yang diberinama “DDSS”. DDSS sendiri merupakan singkatan dari kedua nama mereka. DDSS ini terbentuk dari sebuah kegiatan nge jamm session kedua musisi kebanggan Indonesia ini di sebuah studio musik dan dari proses kreatif keduanya inilah tercetus ide untuk merilis dan me-remake lagu berjudul “Gemilang”.

“Gemilang” merupakan lagu karya Dwiki Dharmawan yang liriknya ditulis oleh Mira Lesmana. Lagu “Gemilang” pertama kali dirilis di tahun 1987 dan dibawakan oleh band Krakatau dimana Dwiki Dharmawan menjadi salah satu personilnya. Di kemudian hari, lagu “Gemilang” juga pernah dirilis oleh penyanyi Andien dan grup band RAN.

Sandhy Sondoro yang terakhir merilis single berjudul “Tiba – Tiba Cinta“ ini bercerita tentang proses pertemuan dengan Dwiki sampai dengan proses rekaman lagu “Gemilang” yang akhirnya dipilih sebagai single perdana dari proyek DDSS tersebut,

“Lagu ini direkam secara live. Awalnya lagi jam session saja di studio sama Dwiki Darmawan tetapi kemudian terpikir kenapa tidak direkam dan dirilis saja sekalian. Jadi waktu itu lagi main ke showroom Melodia, terus yang punya mencetuskan ide, kenapa gak bikin aja rekaman dan video sekalian. Jadi yang dilihat di video itu adalah langsung ‘one take’ lagu sekalian videonya. Terus ada dimixing sedikit dan dimastering sendiri oleh mas Dwiki”, terang Sandhy Sondoro.

Meski lagu “Gemilang” pernah dirilis dalam beberapa versi, namun ada yang berbeda dengan versi yang dinyanyikan oleh Sandhy Sondoro. Musisi yang telah malang melintang sampai ke benua Eropa tersebut, menjadikan lagu “Gemilang” ke nuansa yang lebih sederhana namun berkelas. Suara khas Sandy Sondoro terdengar padu dengan permainan keyboard dari Dwiki Dharmawan dan menjadikan lagu “Gemilang” versi baru ini seperti karya yang fresh.

Dalam acara konferensi pers dan peluncuran lagu “Gemilang” yang berlangsung pada hari Rabu, 12 Juni 2024 di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, pelantun hits “Malam Biru” tersebut mengungkapkan bahwa proses rekaman lagu “Gemilang” tersebut lumayan cepat dan tanpa banyak mengalami kendala,

“Proses rekaman dan aransemennya sangatlah cepat, saya pribadi sangat suka dengan lagu “Gemilang” ini sejak dulu, makanya pas take vokal saya lancar – lancar aja tuh. Saya nyanyi ya nyanyi aja sesuai nyamannya saya, apalagi di proyek ini saya langsung berkolaborasi sama penulis lagunya langsung, wah makin seru aja deh. Mungkin anak jaman sekarang gak tahu siapa sih yang bikin lagu “Gemilang”, nah sekarang ada orangnya langsung yang ikutan”, ujar Sandhy Sondoro.

Sementara Dwiki Dharmawan sendiri mengaku sangat senang bisa berkolaborasi dengan Sandhy Sondoro di lagu “Gemilang ini,

Saya itu suka dengan warna vokal lagu – lagu Sandhy, Sandhy itu kalau bawa lagu up beat bisa sangat soul full penjiwaannya dan kalau bawa lagu yang slow atau ballad bisa deep banget, keren itu. Kebetulan waktu itu ketemu, Sandhy juga bilang dia paling suka lagu karya saya yang berjudul “Gemilang”. Dan Sandhy menyanyikan lagu ini chordnya sama persis dengan versi aslinya. Tidak ada yang dirubah.” Jelas Dwiki Dharmawan.

Dwiki Dharmawan menceritakan tentang latar belakang pertama kali dia menulis lagu “Gemilang” dan tema dari lagu legendaris tersebut kepada awak media yang hadir,

“Saya pertama kali menciptakan lagu ini pada tahun 1985 saat masih remaja, masih 17 tahun. Lagu ini menceritakan tentang kegemilangan dan memberi semangat dalam memecahkan masalah jiwa remaja untuk mencapai dunia mereka. Saya rasa lagu ini masih relevan untuk dinyanyikan setiap generasi. Tahun ini menjadi tahun ke-40 saya di industri musik, jadi sekaligus untuk merayakan itu saya akan meriis beberapa single yang berhubungan dengan perjalanan musik saya.” terang Dwiki.

Lagu “Gemilang” di rekam oleh Dwiki dan Sandhy dalam format musik minimalis, tercatat hanya ada tiga alat musik yang mereka gunakan dalam mengaransemen lagu ini yaitu Keyboard, konta bass dan tambourine.

“kita sengaja mengaransemen secara minimalis di lagu “Gemilang” ini, ini khan baru single pertama, kemungkinan ke depannya akan nada single – single berikutnya dan kemungkinan di tiap single nya aka nada penambahan – penambahan instrumen musik yang masuk”, terang Dwiki menutup pembicaraan.

Lagu “Gemilang” kolaborasi Sandhy Sondoro dan Dwiki Dharwaman sudah bisa didengar di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Deezer, YouTube Music dan Langit Musik mulai 31 Mei 2024 lalu.

Finalis Bintang Radio 2023, Amira, Daffa dan Naya luncurkan single debut

0

Kaset.idRadio Republik Indonesia (RRI) kembali menunjukan dukungannya kepada bakat – bakat baru di bidang musik dengan meluncurkan tiga single sekaligus dari tiga finalis Bintang Radio 2023 yang berhasil menunjukan prestasinya masuk ke 10 besar finalis ajang pencarian bakat menyanyi yang sudah berlangsung sejak tahun 1951. Disini RRI selaku pemilik IP Bintang Radio bekerjasama dengan MVDA Entertainment selaku label dan 13 Nadi Musik sebagai agregatornya.

Menyusul “Josh Florentino” sang juara satu pria Bintang Radio 2023 yang telah lebih dahulu merilis single solo nya, tiga finalis lainnya yaitu Amira Julan (Kendari), Daffa (Banjarmasin) dan Naya (Palangkaraya) akhirnya resmi merilis masing – masing satu single solonya. Amira Julan merilis lagu berjudul “Bagaimana” karya Ananda Mahardhika, lalu Daffa memperkenalkan lagu berjudul “You’re The Only One” featuring mas Jordan karya Ilham Baso Idol dan Naya dengan lagu yang berjudul “Tak Mampu Melupa” karya Arsha Composer.

Masih melalui tangan dingin Seno M Hardjo yang bertindak sebagai produser, ketiga finalis Bintang Radio 2023 tersebut diarahkan untuk dapat menyelesaikan proses rekaman single masing – masing dengan baik.

“Memproduksi ketiga single mereka ini sungguh menjadi tantangan tersendiri untuk MVDA Entertainment dan RRI, Kami ingin memberi aksen yang kuat, agar RRI juga menelurkan karya yang fresh, kekinian dan sangat anak muda, saya berharap biar ada big surprise dan ekstase yang positif untuk perjalanan RRI sebagai pelopor Lembaga Penyiaraan dan Hiburan di negeri ini,” ujar Seno M. Hardjo

Dalam proses kreatifnya, Seno M Hardjo melibatkan para musisi dan aranjer terbaik yang dipercaya menyelesaikan proyek single – single ketiga finalis ini diantaranya : Alfa Dwiagustiar Sibarud dan Arsha Composer (Arranjer) plus Jordan Wong (Aranjer sekaligus vokal director) serta Labai Piagi Studio Sarewo dan Ika Ratih Poespa (Vokal Director). finalis Bintang Radio tersebut mempunyai komentar yang beragam menanggapi proses kreatif yang mereka alami di proyek ini,

“Saya mengikuti tren gaya menyanyi penyanyi saat ini. Mereka memang dasarnya harus menghayati Lagu ya, Tapi lebih dari itu, gaya menyanyi saat ini lebih simpel dan nelangsa,” ujar Amira

“Saya take vokal lagu “Bagaimana” ini tidak di Jakarta melainkan di sebuah studio di kota Kendari dan justru karena gak ke Jakarta, ini jadi tantangan buat saya. Untunglah saya mendapat bimbingan dari vocal Director kondang Igbal Piagi,” ungkap Amira yang baru – baru ini juga menyanyi lagu bernuansa Islami di Jogyakarta untuk event Pekan Tilawatil Ouran yang digagas RRI juga. Kini selain berkarier sebagai penyanyi, Amira juga menjadi Host untuk acara TV Sulawesi.

Sementara itu Daffa yang kebagian lagu dengan warna musik RnB merasa sangat senang bisa bernyanyi dengan aransemen RnB plus mendapat bantuan rapper di single “You’re The Only One”,

“Pas bangeeet saya paling suka genre RnB. Apalagi boleh mengajak Mas Jordan sebagai Rapper. Saya satisfied dengan hasilnya. Kiranya lagu ini bisa menyebar ke seluruh kalangan dan usia,” ujar Daffa

Daffa juga berencana untuk hijrah ke Jakarta untuk berkarier.

“Kemungkinan mulai Agustus tahun ini saya menetap di Jakarta,” ujar Daffa yang bersama mas Jordan shoot video music baru beberapa hari yang lalu.

Hampir sama dengan Amira dan Daffa, Naya yang menurut Ika Ratih Poespa sang Vocal Director merupakan penyanyi yang punya penjiwaan yang begitu dalam dan memiliki olah vokal yang baik ini mengaku senang dengan proses produksi lagu singlenya plus mempunyai pengalaman yang unik saat proses produksi single tersebut,

“Lirik lagu “Tak Mampu Melupa” begitu dalam. Saat menyanyikannya di studio keharuan di dada saya seperti meledak,” ujar NAYA yang deg degan menyambut perilisan single perdananya tersebut.

“Saya udah ga sabar bang, ini single perdana saya yang harus proper dalam banyak hal,” tekad Naya yang saat ini banyak menyanyi untuk berbagai event Pilkada di daerahnya, Palangkaraya.

Dari pihak RRI sebagai penyelenggara, Direktur Utama LPP RRI, I Hendrasmo menjelaskan bahwa beliau sangat mendukung kegiatan Bintang Radio RRI,

“Kita ingin mengembalikan RRI menjadi tempat melahirkan Bintang – bintang. Untuk itulah, kita ingin melanjutkan program Bintang Radio. Kita dukung terus teman-teman yang juara semakin maju dan semakin populer”. Ujar I Hendrasmo.

Ke depannya pihak RRI, MVDA Entertainment dan 13 Nadi Musik akan secara berkala merilis single – single finalis yang tersisa setiap bulannya termasuk single sang juara pertama wanita, Maria Pudesa yang belum dirilis secara resmi.

Ten 2 Five, T-Five dan Asila Maisa tampil menarik, penonton nyanyi bareng di Swag Event edisi 76

0

Kaset.idSwag Event memasuki edisi ke 76, ajang intimated konser yang di inisiasi Dhiche Stage ini semakin seru tiap minggu nya karena selalu menampilkan penampil – penampil yang mempunyai karya – karya apik serta aksi panggung yang menarik.

Asila Maisa – Photo Credit: I Wayan Bagiartana

Pada edisi ke 76, Selasa malam, 11 Juni 2024 ini, Swag Event kedatangan dua grup musik besar tanah air yaitu ”Ten 2 Five” dan “T-Five” serta solois muda pendatang baru berbakat “Asila Maisa” yang tampil menjadi pembuka.

Masih dipandu oleh dua MC maut Eno Suratno Wongsodimedjo dan Ncek Gaul, ketiga pengisi acara tersebut tampil memperkenalkan karya teranyar mereka di depan para penonton yang hadir.

T-Five – Photo Credit: I Wayan Bagiartana

Asila Maisa hadir dengan membawa karya teranyarnya berjudul “Menanti Waktu“. Lagu karya Rizky Billar ini sudah dirilis ke pasaran dalam format digital pada awal Mei 2024 lalu. Selain membawakan tembang terbaru, penyanyi yang tak lain adalah putri dari pesohor Ramzi itu juga membawakan tembang-tembang lain miliknya termasuk “Angkat Tangan“.

Usai Asila turun pentas, giliran T-Five menyapa para Swagies yang sudah menanti kehadiran unit asal Bandung tersebut di muka panggung. Yerry, Gordon, Aldo, dan kawan-kawan membuka penampilan mereka dengan membawakan single berjudul “Jangan Pernah“. Tak ingin menurunkan tensi, mereka langsung menggebrak panggung dengan membawakan tembang populer “MiRC (Malam Ini Ramli Chating) yang disambut koor massal dari bangku penonton.

Ten 2 Five – Photo Credit: I Wayan Bagiartana

T-Five kemudian menutup aksi mereka dengan membawakan tembang “You” milik Ten 2 Five yang didaur ulang dan menjadi single terbaru, dengan mengundang Imel untuk turut bernyanyi ke atas panggung.

Keriaan Swag Event terus berlanjut saat Imel mengajak serta personel Ten 2 Five yang lain ke atas pentas dan menggeber deretan lagu milik mereka termasuk “I Do“, “I Will Fly“, “You” dan nomor “Kau” milik T-Five yang dibawakan dalam versi Ten 2 Five.

Kolaborasi antara Ten 2 Five dan T-Five dalam format split single “You” dan “Kau” diagendakan dirilis dalam format digital dalam waktu dekat. Sementara video klip tembang “You” versi T-Five sudah bisa disaksikan di saluran berbagi video YouTube.

Swag Event – Photo Credit: I Wayan Bagiartana

Program Swag Event yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa malam tiap pekannya, mendapat dukungan penuh dari sejumlah pihak, antara lain media partner yang terdiri dari Reallist Media, Boleh Music, Screentime ID, Info Pesta, Seputar Musik Indonesia, Mave Magazine, Lesehan Musik, dan Soundtainment.

Selain itu, ada pula Lewat Lensa Com, Cadaazz Com, Dapur Letter, Soundcorners, I Music ID, Kaset ID, Musik Anak Negeri, Berisik Radio, Djakarta Connection, Rockstar Magazine, Mautau ID, Stoodio ID, Musik Distric, Jakarta Network, Indie Hits Com, Urbannews Co, serta SOS Konser.

Tak hanya itu, tak lupa Swag Event juga didukung oleh Komunitas Labelers, Road Manager Indonesia, Imarindo, Jaringan Jurnalis Musik, Jurnalis Kanal Musik dan Kala di Kalijaga.