Friday, July 24, 2026
Home Blog Page 71

Ungu rilis single berbahasa Manado “Ta Iris Iris”

0

Kaset.id – Setelah merilis “Limang Taun”, Ungu kembali meluncurkan lagu berbahasa daerah. Karya tersebut berjudul “Ta Iris Iris” dan merupakan bagian dari album studio session “Waktu yang Dinanti 4.0” band yang beranggotakan Pasha (vokal), Enda (gitar), Oncy (gitar), Makki (bass) dan Rowman (drum) itu.

Berbeda dari “Limang Taun” yang berbahasa Jawa, “Ta Iris Iris” mengusung bahasa Manado. Lagu tersebut diciptakan oleh sang vokalis, Pasha, tanpa ada rencana untuk membuatnya sebelumnya.

“Lagu ini sudah jadi sekitar 12 tahun yang lalu dan dibawakan perdana saat Ungu tampil di Manado. Kala itu, saya sedang aktif-aktifnya membawa gitar ke mana pun saya pergi, dan saya iseng saja menulis lirik dan menyenandungkan sebuah nada. Saya pun menemukan lagu dengan dialek Manado ini dan segera menyelesaikannya,” jelas Pasha.

“Ta Iris Iris” disebutkan Pasha dibawakan pertama kali di Manado tanpa direncanakan terlebih dahulu. Ternyata, fans Ungu, Cliquers, sangat antusias dan menyukai lagu tersebut.

“Liriknya yang singkat dan kata-katanya yang menarik kelihatannya sukses membuat mereka yang mendengarkan suka. Cerita lagunya yang menghadirkan konflik cinta yang dramatis membuat “Ta Iris Iris” semakin menarik untuk didengar. Semoga para penikmat musik, terutama Cliquers Manado, puas dan menikmati kehadiran lagu ini di industri musik Indonesia yang mana, lagu ini melengkapi perjalan karier Ungu,” kata Pasha.

Video musik “Ta Iris Iris” akan hadir dalam bentuk studio session yang bisa dinikmati di kanal YouTube Ungu. Lagu “Ta Iris Iris” pun sudah bisa dinikmati di seluruh digital streaming platform, sementara itu album “Waktu yang Dinanti 4.0” sendiri rencananya rilis akhir Juni ini.

Made Aurelia remake lagu “Asmara” milik Aura Kasih dengan vibe centil

0

Kaset.id – Penyanyi muda berbakat, Made Aurelia, atau biasa dipanggil Aurel dengan bangga mengumumkan perilisan ulang lagu legendaris “Asmara” yang dipopulerkan oleh Aura Kasih. Lagu yang kaya akan nuansa cinta dan keceriaan ini kembali dihadirkan dengan sentuhan segar yang relevan dengan generasi masa kini. Dalam sesi wawancara, Aurel berbagi pandangannya mengenai proyek remake ini serta tantangan yang dihadapinya.

Bagi Aurel, Melakukan remake lagu ‘Asmara’ merupakan suatu hal besar. Lagu ini harus didengarkan oleh generasi masa kini, mengingat saat ini jarang sekali ada lagu-lagu yang vibes-nya ‘centil’,” ujar Aurel dengan penuh antusias.

Aurel memastikan bahwa remake ini tetap mempertahankan nuansa dan emosi asli dari lagu ‘Asmara’. “Nuansa dan emosi lagu ‘Asmara’ yang sekarang tidak terlalu berubah dari versi aslinya, hanya dibuat lebih bersemangat,” jelasnya. Bagian favorit Aurel dari lagu ini adalah pada bagian reff.

“Bagian favorit saya adalah reff karena lirik dan nadanya sangat melekat di kepala,” ungkap Aurel.

Aurel merasa bahwa lirik dan melodi lagu ‘Asmara’ sangat cocok untuk menghidupkan kembali suasana cinta yang ceria di era sekarang.

“Saya ingin merilis kembali lagu-lagu dengan vibe centil di era sekarang karena lirik dari ‘Asmara’ ini sangat menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta,” tambah Aurel.

Terdapat beberapa perbedaan dalam versi remake ini, terutama pada aransemen dan vibes lagunya.

“Perbedaannya terletak pada aransemen dan vibes lagu,” kata Aurel.

Ia menyadari, “Menurut saya, versi remake ini membuat orang yang mendengarnya merasa lebih berbunga-bunga,” ujarnya sambil tersenyum.

Aurel mengakui adanya tantangan dalam proses rekaman, “Tidak ada tekanan, hanya tantangan dalam proses rekaman karena banyak bagian backing vocal yang cukup rumit,” jelasnya.

Dalam menyampaikan emosi dan pesan lagu, Aurel menggunakan pendekatan personal. “Pendekatan saya terhadap lagu ini adalah dengan menyanyikannya setiap hari, dan sebelum dirilis, saya sudah sering membawakan lagu ini di berbagai acara,” ungkapnya.

Aurel berharap bahwa pendengar dapat menikmati versi ‘Asmara’ remake ini. “Semoga para pendengar lagu ‘Asmara’ bisa menikmati versi remake ini dan dapat menemani masa jatuh cinta kalian setiap hari,” tutup Aurel.

Dengan kehadiran remake ini, Aurel berharap lagu ‘Asmara’ dapat terus bertahan lama di era gempuran lagu-lagu galau dan tetap menjadi bagian dari momen-momen romantis para pendengar.

Selalu tampil fresh, ternyata Sigit Wardana tidak konsumsi nasi

0

Kaset.id – Masih ingat dengan Sigit Wardana, frontman group band era 90’an, Base Jam? Penampilan Sigit Wardana di industri musik nasional boleh dibilang masih seperti dulu atau boleh dibilang awet muda. Penampilannya diatas panggung masih fresh dan atraktif, apa sih rahasianya?

Penyanyi, pencipta lagu dan produser yang masih eksis berkarya bersama Base Jam dan karir solonya ini ternyata sudah lama tak mengkonsumsi nasi, pepatah “belum makan kalau belum makan nasi” nampaknya tidak berlaku pada Sigit Wardana.

Menurut Sigit Wardana awal mula dirinya akhirnya berhenti mengkonsumsi nasi karena saat itu ia mengalami sakit yang akhirnya ia harus menjalani pola makan yang sehat.

“Gue udah dari 2012 gak konsumsi nasi, awalnya karena sakit gue bell’s palsy (Red-Penyakit yang ditandai dengan kekakuan separuh wajah karena terjebaknya saraf wajah oleh membengkaknya jaringan disekitar saraf tersebut). Wajah sebelah kiri kalau ga salah.”ujar Sigit Wardana saat ditemui saat syuting podcast Beranda Hari Ini di bilangan Cipayung Jakarta Timur, Selasa (18/6/2024).

“Yang tadinya gue gak konsen sama kesehatan, makan apa aja,  sejak kena Bell’s palsy akhirnya gue men trigger untuk memperhatikan soal kesehatan sih. Gue akhirnya cek semua, kolestrol segala macam dan ketahuan tekanan darah gue tinggi. Emang turunan,” kata vokalis Base Jam ini.

Sigit mengaku akhirnya ia mempelajari semua hal yang berhubungan dengan kesehatan. Dan yang paling banyak mempengaruhi adalah karbohidrat salah satunya nasi.

“Setelah gue pelajari ternyata karbohidrat dan yang menurut gue yang paling jahat ya ‘Nasi’. Ya udah akhirnya gue stop tapi gak tiba tiba stop gak makan nasi, dari setengah porsi  dulu, terus makan nasi merah lama – lama gak makan nasi”, ujar Sigit.

“Gue jadi merubah mindset kalau ga makan nasi belum makan, awalnya sih susah, kalau lagi lapar tuh bawaannya marah marah pusing , uring-uringan akhirnya gue bawa tidur. Akhirnya terbiasa dan tubuh gue beradaptasi, setahun dua tahun berat. Cuma akhirnya terbiasa sih sampai sekarang dan ngomong berat badan iya setelah gak makan nasi berat badan turun drastis,”tambah Sigit lagi.

Meski tak makan nasi, namun Sigit tetap makan seperti Daging dan lainnya.

“Ga makan nasi tapi gue tetap makan semuanya sih, daging dan lain – lain normal aja, kecuali nasi,”tutup Penyanyi yang akhir tahun 2023 lalu merilis Mini Album November ini.

Basboi luncurkan merchandise single “Pesona” feat. Andien desain dari Ivania Nabila

0

Kaset.id – Merayakan single barunya dengan Andien yang berjudul “Pesona”, Basboi merilis Official Merchandise berupa Jersey layaknya klub sepakbola. Karena lagu yang baru rilis pada 31 Mei 2024 lalu ini ingin dipersembahkan beda dari single-single sebelumnya, Basboi juga ingin membuat merch yang berbeda dari musisi lainnya. Jersey “Pesona” ini pun sudah dikenakan Basboi dalam musik video dari “Pesona”, yang bisa ditonton di kanal YouTube resminya.

Melihat banyak musisi menjual merchandise berupa T-Shirt, Basboi terinspirasi untuk menciptakan merch yang berbeda, dan arah yang dia ambil adalah membuat, tetapi dengan design seperti T-shirt. Desain dari Jersey ini sendiri sepenuhnya hand-drawn oleh Ivania Nabila, seorang designer lokal, yang membuat designnya mengikuti mood keseluruhan lagu “Pesona”. Official Merchandise Jersey “Pesona” dapat dipesan melalui .

Basboi gandeng Andien di single “Pesona”

0

Kaset.idBaskara Rizqullah, atau yang lebih sering dikenal dengan nama panggungnya Basboi merilis single berjudul “Pesona” pada akhir Mei 2024 lalu. Tidak tanggung – tanggung, musisi Hip-Hop RnB asal Medan yang memulai karirnya di Bandung dan pernah merilis EP debutnya yang berjudul “Fresh Graduate” pada bulan Maret 2019 ini menggandeng salah satu ikon pop Indonesian yaitu Andien.

Single “Pesona” bercerita tentang kekaguman Basboi terhadap pesona wanita-wanita mandiri yang ia kerap temui di kota besar. Wanita yang punya visi dan misi nya sendiri, menolak untuk menjadi objek, dan tidak takut untuk berdiri diatas kakinya sendiri, walaupun sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia dan caranya “berputar” masih belum adil untuk wanita diluar sana. Secara penulisan, tidak ada makna yang muluk-muluk dari Basboi selain merayakan dan mengapresiasi wanita-wanita mandiri ini.

Estetika musik urban pada tahun 2000an awal di Indonesia menjadi titik fokus dalam penggarapan lagu “Pesona” ini. Pertama-tama, Basboi menggandeng Kareem Soenharjo (BAP.) di meja produksi untuk meramu musik, dengan harapan untuk menghidupkan rasa nostalgia pada era tersebut – namun tetap menghembuskan ruh modernitas dan warna hip-hop yang khas untuk Basboi bermain. Setelah itu, Basboi menggaet Andien sebagai salah satu ikon pop Indonesia yang juga merupakan manifestasi dari salah satu inspirasi penggarapan lagu, yakni album kedua-nya berjudul “Kinanti”. Inspirasi lainnya juga tertuang pada bagian chorus, yakni merupakan interpolasi dari single hit Andezzz berjudul “Pergi” yang populer di sekitar tahun 2007.

Single “Pesona” ini disajikan bersamaan dengan video klip yang diproduksi oleh Hura Creative Garage dan disutradarai oleh Prama Surya, yang juga menggarap video klip single Basboi sebelumnya yakni “New Cartier”. Masih menampilkan estetika visual tahun 2000an, video klip ini turut dibintangi Andien dan Aji Sabha, yang berperan sebagai announcer radio fiksi “80.1FM Boi Radio”, yang diceritakan menjadi semesta dan entitas baru dalam kampanye album Basboi selanjutnya. Andezzz turut muncul sebagai cameo, menggarisbawahi interpolasi bagian chorus yang terdapat di lagu ini.

Dikenal dengan keahliannya dalam ‘code-switching’ antara Bahasa Inggris dan Indonesia dalam liriknya, Basboi telah berkembang sebagai ‘soft-boy rapper’ tanpa harus mengikuti standar Hip-Hop / RnB yang identik dengan maskulinitas. Pada tahun 2021, Basboi merilis album pertamanya, “Adulting For Dummies”, yang berhasil meraih beberapa nominasi album terbaik. Bahkan sejak awal kariernya, Basboi sudah mampu menarik perhatian berbagai brand, sehingga ia berkesempatan untuk mewakili Indonesia dalam berbagai acara Converse X. Dalam acara-acara tersebut, ia beradu akting dengan musisi internasional lainnya seperti Dominic Fike, Jasper, dan Tyler, The Creator.

Tahun 2024 diproyeksikan akan menjadi tahun yang besar bagi Basboi, karena ia dikabarkan akan menggarap album penuh kedua. Dengan dunia di pundaknya, Basboi siap untuk membawa genre Hip-Hop/RnB lokal ke stratosfer baru.

Berdomisili di Surabaya dan Malang, Pawsicles lahirkan single debut “Orange”

0

Kaset.idPawsicles menapakkan jejak perdana dalam industri musik tanah air lewat sebuah single yang diberi judul “Orange”. Menandakan semu jingga yang seringkali muncul secara singkat pada waktu senja, warna ini mewakili momen fantasi singkat yang kerap terselip di benak sang penulis lagu yakni Januarisky. Ia membayangkan tentang apa yang akan terjadi apabila perasaan yang saat itu muncul bisa langsung diutarakan. Apakah akan memberikan hasil akhir yang berbeda, ataukah akan mengubah semuanya menjadi lebih indah?

“Orange” menceritakan perasaan yang tak terungkap pada sesosok wanita dan bayangan memuakkan jika pria lain merengkuhnya dalam pelukan. Lewat pengalaman pribadinya yang terus menerus menghantui, sang musisi menuangkannya lewat lirik dalam bahasa Inggris yang dibalut dalam nuansa indie pop. Mengambil akar musik pop, Pawsicles tidak membatasi eksplorasi sound mereka dengan memasukkan unsur dream pop hingga alternative pop. Mereka mendefinisikan musiknya sebagai ‘happysad pop’, perpaduan lirik melankolis dengan melodi yang manis.

Band yang masih berusia kurang dari 1 tahun ini dibentuk oleh dua bersaudara yakni Januarisky (vokal, gitar) dan Jayaindra (gitar) yang mengajak serta Rian (drum), Rizal (keyboard) dan Edo (bass) dalam perjalanan mereka meniti karir bermusik. Nama Pawsicles sendiri diambil dari gabungan paws dan popsicle. “Orange” direkam di Haum Studio dengan beberapa elemen yang sudah rampung, proses pembuatan lagu perdana Pawsicles tidak memakan waktu lama untuk selesai.

Domisili personel yang tersebar di dua kota yakni Surabaya dan Malang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk menggodok materi yang ada. Meskipun begitu, sebanyak 8 materi berhasil digarap dengan 4 lagu demo yang telah sampai pada tahap proses mixing dan mastering. Keempat demo tersebut menjadi modal utama bagi band ini untuk serius menekuni dunia musik independen. Desain sampul dari single ‘Orange’ mengambil suasana & perasaan ‘obscure’ yang terabadikan dari hasil tangkapan cahaya menggunakan teknik fotografi low exposure yang dieksekusi oleh Jayaindra.

Mengusung visi dan misi yang selaras disertai keuletan dalam merintis karir, band ini memiliki mimpi yang besar.

“Tentu saja terdapat goals yang ingin kami segera realisasikan. Di tahun ini kami ingin menuntaskan EP yang sedang dalam proses. Dan juga kami ingin segera memperbanyak dan memperluas jaringan panggungan kami, menjalin relasi sebanyak mungkin dengan musisi-musisi lokal. Yang jelas kami ingin lagu yang kami buat dapat berdampak positif bagi yang mendengarkan, menemani senang dan sedih mereka serta menemani perjalanan hidup mereka,” ungkap Pawsicles.

Mengiringi perilisan ini, unit tersebut juga merilis merchandise khusus serta video lirik yang memeriahkan milestone pertamanya.

“Orange” bisa dinikmati di berbagai layanan streaming digital via Yallfears.

Musisi jazz nasional galang dana untuk anak – anak Palestina di acara “Jazz in Unity”

0

Kaset.id – Konser amal penggalangan dana dari musisi Indonesia buat anak – anak terdampak konflik perang di Palestina lancar digelar Jumat 14/6/24 kemarin. Bertempat di sebuah club jazz bernama 1920 lounge di bilangan Kemang, Jakarta, konser yang diberinama “Jazz in Unity” tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian dan gerakan kemanusiaan terhadap penderitaan anak – anak disana.

Senyum dan tawa ceria anak-anak menjadi sebuah anugerah bagi setiap orang yang ada di bumi. Namun tidak bagi anak-anak Palestina yang saat ini paling menderita di tengah konflik yang berlangsung. Tidak ada lagi fungsi musik yang dapat mencerahkan hari anak-anak jika kita tetap membiarkan anak-anak Palestina menjadi korban genosida yang terjadi di sana. Lewat dukungan komunitas dan pegiat musik jazz di Indonesia, kegelisahan tersebut mendorong mereka untuk berbuat hal baik lewat gerakan “Jazz in Unity”.

Sederet musisi seperti Armiya Husein, Bella Fawzi, Chiki Fawzi, Dara Swandana, Dira Sugandi, Eka Annash, Elfa Zulham, Fia, Jamie Aditya, Kevin Yosua, Kojek Rap Betawi dan Sri Hanuraga ikut menunjukan empatinya dengan terlibat sebagai pengisi acara di “Jazz in Unity”. Selain itu juga ada tambahan pembacaan puisi dari Rebecca Kezia dan Yudi Ahmad Tajudin yang diiringi oleh komposisi musik syahdu dan apik bersama Sri Hanuraga, Elfa Zulham, dan Kevin Yosua.

“Jazz in Unity” ini tercetus dari keresahan pribadi saya yang ternyata menjadi keresahan kolektif para pegiat dan penggiat jazz di Indonesia. Bermula dari sebuah story di Instagram untuk mengajak membuat konser amal bagi anak-anak terdampak penindasan di Palestina, secara organik terkumpul lah beberapa musisi, pemilik venue, show director, fotografer, videografer, streaming partner, kru, crowdfunding partner, auditor, dan lembaga kesehatan yang akan menyalurkan donasi,” ungkap penggagas Jazz in Unity, Bagas Indyatmono.

“Kalau musik genre lain mungkin ada lagu tentang Palestina dan perlawanan, tapi kalau musik jazz itu memang lahir dari perbudakan dan perlawanan. Jadi musiknya memang sudah dan harus membuat orang bahagia,” ujar Jamie Aditya sebelum memulai penampilannya di Jazz in Unity.

Ia tampak sangat emosional hingga kerap meneteskan air mata kala bercerita tentang kondisi yang dialami anak-anak Palestina.

“Gerakan dan konser amal ini dipersiapkan hanya dalam waktu 14 hari namun diharapkan dapat memberikan perhatian yang cukup besar terhadap apa yang sedang terjadi di Palestina dan dapat menular kepada komunitas sejenis di daerah atau negara lainnya”, lanjut Bagas,

“Saya merasa terhormat untuk mendukung acara “Jazz in Unity” yang didedikasikan untuk membantu anak-anak Palestina. Seluruh keuntungan kami dari penjualan selama acara akan disumbangkan ke badan amal yang membantu anak-anak Palestina. Kami percaya apa yang kami perbuat ini dapat memberikan dampak positif,” tambah pemilik club jazz 1920, Salil Innab.

Untuk menyalurkan hasil donasi, “Jazz in Unity” juga bekerjasama dengan MER-C Indonesia dan Kitabisa. Gerakan ini juga mengajak Anda semua bisa ikut terlibat dalam donasi di https://Kitabisa.com/jazzinunityforpalestine .

Sampai acara ini usai, terkumpul sekitar Rp 18 juta dari donasi dan hasil penjualan 1920 lounge. Donasi ini masih akan terus dibuka di halaman Kitabisa selama beberapa waktu ke depan.

“Kami salut banget sama aksi nyata teman-teman Jazz in Unity dalam menyuarakan dukungan untuk Palestina. Kitabisa bersama MER-C Indonesia berkomitmen untuk memastikan donasi yang terkumpul pada konser amal ini dapat tersalurkan dan diterima langsung oleh anak-anak Palestina,” pungkas Vikra Ijas, CEO Kitabisa.

Sukses tur promo single “Perih Jerih” di 4 kota Indonesia, Masdo akan rilis full album

0

Kaset.idMasdo’, Group band bergenre retro 60an dari Malaysia baru saja menyelesaikan tur di Indonesia. Trio Ali Sariah (vokalis), Putu Ceri (bass) dan Asmawi (gitaris) ini memanfaatkan tur di Indonesia untuk memperkenalkan single terbaru mereka yang berjudul “Perih Jerih”.

Masdo yang populer di awal karirnya lewat lagu “Dinda” ini menggelar tur 4 kota di Indonesia meliputi Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Bali selama 12 hari sejak 31 Mei hingga 10 Juni 2024 lalu. Di tur kali ini Masdo didukung oleh Klook dan juga Enrich Malaysia.

“Bagi kami Indonesia itu sangat istimewa di hati. Karenanya kami senang sekali bisa berkesempatan bertemu dengan pendengar Masdo di Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan terakhir di Bali,” kata tiga personil Masdo dalam siaran pers tertulisnya.

Masdo bercerita tentang perjuangan dan kehilangan di lagu “Perih Jerih” dan lagu ini sepenuhnya diciptakan oleh mereka bertiga bersama dengan Warner Music Malaysia.

“Lagu ini berkisar pada perasaan orang-orang yang telah kehilangan, berbagai pertanyaan yang terkadang tidak dapat diselesaikan dengan alasan yang masuk akal, sekaligus berusaha untuk bangkit dan menjadikan perasaan itu sebagai kekuatan untuk melanjutkan hidup” , kata Putu Ceri.

Single Perih Jerih yang diproduksi dengan nuansa pop alternatif ini membutuhkan waktu dua minggu untuk selesai seluruhnya dan direkam di studio Bijan Fx Productions,

“Kami menjadikan band The Strokes sebagai acuan dan pengaruh dalam produksi lagu kali ini,” tambah Putu Ceri.

Menariknya, pengambilan gambar video musik (MV) “Perih Jerih” yang disutradarai oleh Aqil Muaz dilakukan di sekitar kota London,

“Singkatnya MV ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang harus mengorbankan perasaan dan juga hubungannya demi kebaikan bersama. Dan kenapa dipilih kota London, kebetulan kami diundang untuk tampil di sana, maka kesempatan ini kami manfaatkan dan manfaatkan ruang dan waktu yang ada dengan syuting di sana,” jelas Asmawi.

Pesona Masdo memang besar dan tidak hanya di Malaysia dan Indonesia. Setelah lagu “Pujaanku” bersama Aisyah Aziz rilis tahun lalu mereka mendapatkan banyak kesempatan untuk tampil di panggung tidak hanya di Malaysia, tapi juga mendapat undangan tampil di luar negeri seperti Jepang dan Inggris. Sedikit bocoran, berikutnya mereka merencanakan untuk mengeluarkan album terbaru.

“Selain single terbaru, saat ini kami berencana untuk mempersiapkan full album bersamaan dengan perayaan ulang tahun kami yang ke 10 tahun depan, sejak tahun 2015. Dan kemungkinan besar juga kami akan mengadakan serangkaian tur konser keliling Malaysia, Indonesia dan Singapura akan memperkenalkan album baru kami di konser 10 tahun Masdo,” ujar Ali Sariah.

“Perih Jerih” sudah bisa didengar di seluruh digital streaming platforms. Sedangkan MV single ini hanya bisa disaksikan secara eksklusif di channel YouTube Masdo .

Bekerjasama dengan Sony Music, duo More On Mumbles asal jogja rilis album perdana

0

Kaset.id – “More on Mumbles” Merilis Album (Masih) Kalah” Tentang Mengurai Luka Perasaan Setelah Berpisah. Album ini berisi 12 lagu yang ditulis sepenuhnya oleh duo asal Yogyakarta tersebut. Setelah melempar empat single selama setahun terakhir, perjalanan More on Mumbles menuju album perdana akhirnya berada dititik Pamungkas. Duo dari Yogyakarta beranggotakan Lintang Larasati (Lintang) dan Ikhwan Hastanto (Awan) itu resmi melepas album pertamanya berjudul (Masih) Kalah, bekerjasama dengan Sony Music Entertainment Indonesia.

Lintang, vokalis More on Mumbles, menceritakan album (Masih) Kalah” dimulai ketika ia dan Awan mengalami sebuah perpisahan secara tiba-tiba dengan orang yang mereka sayangi. Perpisahan itu ternyata menimbulkan bekas yang cukup dalam, membuat keduanya kebingungan dalam berusaha memahami bentuk perasaan yang sedang dialami.

“Kami akhirnya coba-coba ngurai emosi ‘asing’ itu dengan cara bikin lagu. Selama dua tahun, kami nulis sekitar 15-an lagu buat ngeluarin dan ngungkapin apa aja yang kami rasain gara-gara perpisahan itu. Dari situ, terpilih 12 yang masuk ke album (Masih) Kalah” ,” ujar Lintang.

Dalam proses kreatif (Masih) Kalah” , Lintang dan Awan menyadari bahwa ada banyak emosi yang timbul setiap keduanya membicarakan perpisahan itu. Misalnya, ada hari ketika rasa marah muncul, ada juga saat rasa sedih lebih mendominasi.

“Pernah juga kami merasa kesal, atau cuma pasrah dan menganggap diri ini bodoh aja. Akhirnya, lagu-lagu yang ditulis selama dua tahun itu punya emosinya sendiri-sendiri, jadi beragam,” lanjut Lintang.

Ragam emosi ini bisa dirasakan saat mendengar beberapa track seperti “What A Strange Day” tentang sikap aneh yang muncul akibat pengaruh trauma berpisah, atau “Closure” tentang rasa terpaksa menerima bahwa berdamai dengan luka masa lalu tak selalu dimiliki semua orang, dan juga “Now You Say You Wanna Talk” tentang rasa kesal saat orang yang meninggalkan itu tiba-tiba saja menghubungi dan meminta untuk bertemu.

Dalam pengerjaannya, lagu-lagu di album (Masih) Kalah” melibatkan beberapa produser kawakan.

“Kami beruntung banget bisa ngerjain lagu-lagu ini bareng produser hebat kayak Yabes Yuniawan, Dimas Wibisana, Enrico Octaviano, Ricco, dan Lafa Pratomo. Pengalaman mereka ngebantu kami bikin pesan – pesan di lagu jadi lebih sampai,” kata Awan, sang gitaris.

Dalam rangka perilisan album perdana, More on Mumbles tengah menyiapkan konser album.

“Mudah-mudahan lancar persiapannya jadi punya kesempatan untuk bawain semua lagu di album,” tutup Awan.

Meski ditulis karena perpisahan, Awan dan Lintang berharap album ini bisa membawa keduanya ke banyak pertemuan. (Masih) Kalah” sudah bisa didengarkan di seluruh digital streaming platforms, video lirik untuk seluruh lagu juga sudah tersedia.

Track List Album (Masih Kalah) : “Let You Know, Berdalih, Lagu Lama, Good For You, Now You Say You Wanna Talk, Aku Dan Ingatan, Such Is Life, Should’ve, What A Stranger Day, Tanpa Jeda, Closure” dan “ Siapa Yang Salah”.

Keluar dari zona pop, Nina Tamam luncurkan “Lebur”, single yang bernuansa noir dan sinematik

0

Kaset.idNina Tamam adalah penyanyi dan aktris yang tergabung dalam grup vokal yang besar di era 90an, Warna dan pernah merilis album solo atas namanya sendiri, Nina (2004). Kini Nina meluncurkan single terbarunya dengan warna baru yang lebih bernuansa noir dan sinematik yang megah.

Lagu ini merupakan hasil kolaborasi Nina dengan Endah Widiastuti (Endah n’ Rhesa) sebagai penulis lagu, dan Adra Karim (produser, kibordis Tomorrow People Ensemble) sebagai komposer/produser dan dibantu oleh Panji Prasetyo sebagai eksekutif produser sekaligus produser kedua.

Diakunya setelah berkarir sangat lama di dunia tarik suara, baru kali ini Nina merasakan keterlibatan lebih jauh dalam sebuah karya. Sehingga Nina merasa hadir utuh sebagai “artist” karena turut menyuarakan ide-ide dan isi hati. Dibandingkan dengan proses sebelumnya, dulu Nina menerima lagu dari penulis lagu dan hanya tinggal bernyanyi saja.

Proses mengerjakan single “Lebur” berlangsung cukup lama, sekitar satu tahun. Setelah Nina datang kepada Endah untuk menulis lagu, dan kebetulan Endah sudah punya bahannya proses ini bisa dibilang berjalan lancar. Namun proses panjang berlangsung saat Nina datang ke Adra untuk diaransemen. Adra memaksa Nina untuk keluar dari kotak “pop mainstream” nya. Sehingga mereka berdua melakukan workshop berkali-kali untuk mendapatkan rasa yang pas untuk lagu ini. Ditambah Nina juga terlibat dalam menentukan cara bernyanyi, pemilihan backing vocal dan sound di dalamnya. Pada akhirnya lagu ini dirasa sangat berhasill mengawinkan apa gambaran yang mereka inginkan.

Lagu “Lebur” sendiri menurut Endah sebagai penulis liriknya bercerita soal kerinduan yang disertai oleh berbagai ekspresi atau emosi. Di dalamnya ada rasa cinta, gelisah, gundah, rindu jadi satu digambarkan perasaan lebur jadi satu dan itu adalah ungkapan atau sosok yang dinanti-nantikan. Musiknya yang digarap Adra Karim bernuansa noir dan sinematik, terbangun dari atmosfer yang suram, gelap, dan instrumen seperti piano, cello, bermain nada minor dengan kord yang tidak sederhana.

Dengan dirilisnya single terbaru yang berbeda ini Nina ingin terus bisa berkarya dan diterima pasar. Nina juga berharap agar lagu ini bisa menemani mereka yang ingin melebur bersama pasangannya yang terpisah jarak, waktu atau apapun. Semoga bisa menyatu dan melebur bersama pendengar musik Indonesia.

Selain ada video lirik dan video musik untuk lagu “Lebur”, rencananya dengan eksplorasi barunya ini Nina akan merilis single kedua, dan diharapkan ke depannya bisa menghasilkan album penuh keduanya. Selamat menikmati karya terbaru Nina Tamam, “Lebur” dalam nuansa noir dan sinematik yang megah.