Kaset.id – Kota Bandung tidak pernah kekurangan talenta – talenta yang bagus dalam urusan tarik suara, terbukti selalu saja ada pendatang baru yang hadir menunjukan kreatifitasnya lewat perilisan single atau mini album ataupun full album seperti trio vokal ‘Pagi Nyanyi’ yang baru saja merilis single ketiga berjudul “Pastikan Dia Untukku”.
Di produksi oleh trio ‘Pagi Nyanyi’ dan di produseri oleh mereka bersama Erik Suhendri dan Adi Prisada, trio Nonnie, Uchi dan Renjana memperkenalkan single yang nge pop dan easy listening pada aransemen musiknya yang ditangani oleh pencipta dan penulis lagunya langsung yaitu Suci Rahayu Dewi yang dibantu juga oleh Erik Suhendri.
Trio ‘Pagi Nyanyi’ yang terbentuk di tahun 2020 dikarenakan hobi yang sama dalam berolahraga pagi dan bernyanyi ini sebelumnya sudah merilis dua single yaitu : “Untukku Kamu Mati” dan “Womens’s Always Right”. Dua lagu tersebut masih bernuansa pop, namun single kedua yang berjudul “Womens’s Always Right” tercatat lebih up beat daripada single pertama mereka “Untukku Kamu Mati” dan single ketiga “Pastikan Dia Untukku” agak – agak mirip dengan single pertama mereka yang lebih easy listening.
Single ketiga ‘Pagi Nyanyi’ berjudul “Pastikan Dia Untukku” ini mengangkat tema cinta yang sederhana, yang bercerita tentang bagaimana orang yang sedang jatuh cinta dengan rasa sedih dan gembira yang bercampur aduk. Melalui single “Pastikan Dia Untukku” ini, ‘Pagi Nyanyi’ berharap dapat diterima dan dinikmati oleh seluruh pecinta musik dimanapun berada dan turut mewarnai dunia musik Indonesia.
Single ‘Pagi Nyanyi’ – Pastikan Dia Untuku” sudah bisa disimak di seluruh Digital Store Platform kesayangan teman – teman pecinta musik nasional ya.
Kaset.id – Tak terasa, empat tahun sudah mendiang Glenn Fredly pergi meninggalkan industri musik Indonesia dan kita semua. Walaupun raga dan jiwanya sudah tak ada lagi, namun karyanya akan selalu dikenang oleh seluruh pecinta musik tanah air. Semasa hidupnya, Glenn Fredly berhasil memanjakan para penggemarnya melalui begitu banyak karya yang indah. Kumpulan album dan single yang banyak membahas tentang percintaan dan kedamaian, menjadi karya-karya yang memperkenalkan khas dari Glenn Fredly ke muka masyarakat nasional bahkan internasional.
Kaset.id – Bulan ini industri musik Indonesia kembali diwarnai penyanyi pendatang baru, ialah Ras Gito yang akan baru saja merilis single pertamanya berjudul “Hal Baik”. Menyimak lagu debut dari Ras Gito ini mengingatkan kita akan lagu – lagu pop ala Kerispatih namun Ras Gito mempunyai karakter tersendiri yang mampu membuat lagu ini menjadi terasa dalam.
Lagu yang ditulis dan diproduseri oleh Nanda Wijoyo ini mengusung tema melanjutkan hidup, menemukan kedamaian dan sembuh dari luka hati. Menggandeng musisi berbakat tanah air yaitu, Afif Gifano sebagai Music Director yang berperan penuh dalam hal aransemen dan produksi musik, lagu perdana Ras Gito ini siap menggugah hati yang mendengarnya.
“Lagu ini nggak cuma sangat personal bagi saya, tapi saya juga yakin bahwa apa yang akan saya sampaikan di lagu ini bisa relate dengan banyak orang, terutama mereka yang sudah pernah melalui beratnya masa-masa perjuangan after breakup atau hal-hal menyakitkan lainnya. Saya senang punya kesempatan berkolaborasi dengan teman-teman saya untuk karya pertama saya ini dan saya tidak sabar membagikan ‘Hal Baik’ kepada dunia”, ujar Ras.
Debut Ras Gito ‘Hal Baik’ sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik streaming sejak 21 Juni 2024.
Kaset.id – Setelah merilis single “Peran Utama”, Mudhofar melanjutkan perjalanannya menuju album perdananya. Setelah sekian lama bermain-main dengan perasaan, akhirnya Mudhofar berhasil jatuh cinta lagi. Tetapi, kisah cinta sang Peran Utama justru harus berakhir di “Jalan Buntu”. Karakter ‘Redflag’ yang ia ciptakan saat ini, membuatnya tidak ingin pusing dengan drama dalam satu hubungan, apalagi drama yang tidak penting.
“Jalan Buntu” merupakan sebuah lagu yang menceritakan tentang hubungan yang selalu penuh keraguan. Pasangannya yang haus akan validasi, membuat Mudhofar lelah dan semakin hilang perasaannya. Menurutnya, hubungan yang dewasa adalah hubungan yang yakin satu sama lain tanpa harus mempertanyakan perasaan sayangnya. Jika terus menerus mempertanyakan hal yang sama, artinya tidak ada rasa yakin dan lebih baik diakhiri.
“Semakin lama semakin jelas, kalo gue gak ngelihat orang ini ada di masa depan gue.”, jelas Mudhofar.
Selain itu, Mudhofar juga merasa jika di hubungannya pada saat itu tidak membuat dirinya berkembang karena pasangannya terlalu menjadi penghambat. Dengan nuansa musik Pop/Rock, solois 24 tahun ini berharap dapat memuaskan para pendengar musik dari berbagai kalangan serta dapat memberikan kontribusi positif terhadap industri musik tanah air.
Tentang Mudhofar
Mudhofar sebelumnya tidak menyangka akan menjatuhkan pilihan hidupnya di musik. Sebelumnya, ia hanya hobi menulis puisi, sajak, dan semacamnya. Memulai debutnya di single “Hilang Diri” (2020), Mudhofar kecanduan di musik dengan merilis 6 single, dan 2 EP. Singer-songwriter kelahiran tahun 2000 ini, telah menjadi musisi independen sampai saat ini dengan total 13 lagu di DSP.
Kaset.id – Setelah merilis “Shallow Water” (2,4 juta views di YouTube, lebih dari 813.000 streams di Spotify), kini Afgan meluncurkan “Sonder”, album bahasa Inggrisnya yang ke-2 setelah “Wallflower” (2021), melalui Empire. “Escape” dipilih menjadi focus track Extended Play atau EP dan di lagu tersebut, Afgan berduet dengan rapper asal Korea Selatan, yaitu Jessi.
“Sonder” adalah karya Afgan yang paling personal. Arti judul tersebut adalah sebuah perasaan atau kesadaran akan semua orang yang kita temui dalam hidup ini, kenal maupun tidak, bahkan hanya sebatas melewati kita saat sedang berjalan, punya kisahnya masing-masing.
“Kata ‘Sonder’ yang mana aku temukan melalui Pinterest, sangat bergema di benakku. Setiap orang punya perspektif serta cerita hidup masing-masing, mulai dari yang simpel hingga yang komplek. Masing-masing dari mereka sedang mengalami sesuatu dalam hidup mereka, dan kita harus punya rasa kasih sayang terhadap orang lain. Itu yang membuatku memilih ‘Sonder’ sebagai judul album,” jelas Afgan.
Untuk “Sonder”, Afgan terbang ke Inggris dan bekerja sama dengan beberapa songwriter dan produser ternama di sana, salah satunya adalah Maestro, produser single “What Now” milik Rihanna. Ia menetap selama dua minggu, dan lahirlah lima lagu untuk “Sonder”. Mulai dari emotional ballad “Shallow Water” yang bercerita tentang ketakutan akan berkomitmen dalam sebuah hubungan karena trauma masa lalu, kenyamanan dalam kesendirian dalam “Lonely Night” yang dancy, hingga “Escape” yang hadir dengan nuansa summer vibes yang fun dan fresh. Tak hanya Jessi, tapi hadir pula penyanyi wanita R&B berdarah Vietnam-Amerika, thủy, di lagu “Criminal”.
“Aku telah berjalan sejauh ini, banyak berkembang, dan mengalami banyak hal. Dulu, aku tidak punya hak untuk menentukan apa yang aku inginkan dari musikku. Aku dikendalikan oleh pasar dan ekspektasi orang-orang. Aku tidak percaya diri untuk speak up. Namun, seiring bergantinya tahun, aku menjadi semakin berani untuk mengeksplorasi musikku dan lebih terbuka terkait diriku agar, orang-orang dapat mengenalku lebih dalam,” jelas Afgan.
Melalui “Sonder”, Afgan semakin berani membuka diri lewat lirik lagu-lagunya. Ia ingin mengubah citranya sebagai ‘nation’s darling’ demi mempererat hubungan dengan para penggemarnya, dan ini belum pernah ia lakukan sebelumnya.
“Aku tidak ingin masuk ke dalam sebuah boks dan tinggal di dalam sana selamanya hanya karena nyaman. Aku ingin berkembang dan itu adalah arah yang ingin aku tuju dalam karyaku. Aku ingin lebih jujur dalam bermusik dan “Sonder” mewakili perasaanku terkait itu. Menyeramkan memang, keluar dari zona nyaman dan bekerja di lingkungan baru, tapi aku menginginkannya,” lanjut Afgan.
“Escape” sendiri dipilih menjadi focus track karena merepresentasikan kehidupan Afgan, yang mana ia butuh lari sejenak dari rutinitasnya setelah bertahun-tahun menjadi sorotan publik. Lagu dengan beat yang catchy serta lirik yang sing-along ini cocok untuk dijadikan road trip anthem dan refreshing getaway bersama orang-orang terdekat.
“Sebagai seorang public figure di industri hiburan selama bertahun-tahun, sesekali aku ‘escape’ dengan travelling atau hanya berjalan-jalan ke suatu tempat hanya untuk menjaga kestabilan emosiku. Aku pikir, semua orang bisa memahami hal ini. Kita membutuhkan semacam pelarian dengan pendamping yang tepat untuk memulihkan energi. Itulah yang disampaikan oleh “Escape”,” jelas Afgan.
Usai Afgan menyelesaikan “Escape” di London, Inggris, ia merasa ada sesuatu yang ‘kurang’. Ia ingin ada sosok lain yang menyanyi dengannya di lagu tersebut. Nama Jessi pun terlintas di pikiran Afgan. Dengan karakter suara dan kepribadian Jessi yang unik, Afgan merasa Jessi adalah teman duet yang tepat untuk lagunya barunya itu.
“Aku pertama kenal dan bertemu Jessi di sebuah festival musik pada 2022. Sejak saat itu, kami berteman baik. Soal “Escape”, aku pun menanyakan padanya apakah ia mau menyumbang suara di lagu itu. Dia bilang mau. Aku expect Jessi untuk nge-rap seperti biasanya, ternyata dia ingin menyanyi. Ini surprise sekali, buatku dan tentunya untuk fans Jessi. Hasilnya, bagus sekali. She elevates the song,” ucap Afgan.
Proses shooting video klip “Escape” dilakukan di Bali dan menampilkan sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan tema ‘melarikan diri sejenak dari rutinitas sehari-hari’.
“Seru sekali bekerja sama dengan Jessi. Aku sangat menikmati momen-momen keseruan kami shooting video klip “Escape” di sebuah villa di Bali. Aku bersyukur Jessi dan timnya berkenan untuk terbang jauh ke Bali hanya untuk shooting,” kata Afgan.
Sebelumnya, pada tahun 2021, Afgan merilis album berbahasa Inggris pertamanya yang bertajuk “Wallflower”. Album yang telah meraih 68,5 juta streams di beberapa digital streaming platforms dan menduduki peringkat #1 di Netease itu memiliki beberapa single andalan, yakni “Say I’m Sorry”, “M.I.A” yang berkolaborasi dengan Jackson Wang, “If I Don’t Have Your Love”, dan “Touch Me (Remix)” bersama Robin Thicke.
Kaset.id – Apakah perpisahan yang damai adalah jalan terbaik untuk mengakhiri cinta? Itulah yang kurang lebih menjadi esensi dari balada pop terbaru yang dirilis oleh musisi muda Elma Dae yang bertajuk “Pisah Baik-Baik“. Dirilis di bawah bendera label musik Sony Music Entertainment Indonesia, balada pop yang berdurasi 3 menit dan 22 detik ini telah diperdengarkan lewat digital streaming platforms .
Balada pop yang bertemakan perpisahan memang sangatlah marak. Terlepas demikian, apa yang membuat “Pisah Baik-Baik” dari Elma Dae ini berbeda sekaligus menonjol di antara balada-balada tersebut adalah bagaimana lagu tersebut menyuguhkan perspektif seorang wanita muda yang menyadari bahwa cinta yang tulus tidak selalu berujung pada komitmen yang kekal. Ada kalanya, ketika sang pasangan tampak tidak siap untuk menjalin sebuah hubungan, pilihan yang terbaik adalah perpisahan yang damai dan tanpa amarah.
“Dari segi kreativitas, “Pisah Baik-Baik” menjadi karya yang istimewa di perjalanan karir Elma Dae karena karya tersebut menjadi kali pertama sang musisi menggarap sebuah lagu secara solo.
“Ini memang kali pertama aku menulis lagu sendirian, dan syukurlah prosesnya berjalan dengan cukup lancar, selain itu, aku juga sangat bersyukur bahwa aku beroleh asistensi dan dukungan dari berbagai pihak yang sangat capable.” ungkap Elma Dae yang juga berada di bawah bimbingan Yovie Widianto Music Factory (YWMF). “
“Inspirasi lagu “Pisah Baik-Baik” ini pun berasal dari pelajaran kehidupan yang Elma Dae pernah petik dari kisah personalnya.
“Realitanya, kita tidak perlu menyamakan perpisahan dengan drama atau pertengkaran, relationship yang tidak berjalan sesuai ekspektasi itu memang menyakitkan. Memiliki pasangan yang tidak fokus sama hati kita atau sulit menepati janji itu memang sangat menyayat perasaan. Akan tetapi, ketika kita dan pasangan kita sudah berada di ujung jalan, aku menyadari bahwa berpisah baik-baik, tanpa amarah atau pun dendam, adalah sesuatu yang sangat possible” lanjut Elma Dae. “.
Sebagai penulis lagu “Pisah Baik-Baik”, Elma Dae turut menjelaskan makna dan pesan di balik lagu teranyar miliknya tersebut,
“Tidak semua relationship yang gagal harus berakhir dengan sumpah serapah atau banjir air mata. Lagipula, dengan cara yang mungkin cukup unik, mantan kekasih kita dan relationship yang gagal tersebut justru sangat membantu kita menjadi manusia yang lebih tangguh sekaligus menjadi manusia yang lebih dewasa”, tambah Elma Dae lagi.
Sang maestro pop, Yovie Widianto, yang pernah menggarap karya-karya Elma Dae sebelumnya, menyambut hangat kemauan sang musisi untuk bertransformasi menjadi singer-songwriter.
“Saya melihat bahwa kemampuan Elma Dae dalam bernyanyi dan sensitivitas yang dimilikinya dalam meniti lirik lagu menjadi sebuah kombinasi yang mengesankan, dengan menulis lagunya sendiri, Elma Dae semakin menunjukkan karakter khas yang dimilikinya sebagai seorang musisi. Selain itu, tampaknya Elma Dae cukup mahir dalam memilih diksi yang bisa menciptakan resonansi dengan para pendengar lagunya”, puji Yovie Widianto.
Berperan sebagai vocal director, Barsena Bestandhi pun mencoba mendorong Elma Dae untuk menjadi versi terbaik dirinya lewat “Pisah Baik-Baik” ini.
“Visi saya adalah memastikan Elma Dae memberikan performa vokal yang jujur dan tidak bisa diperbandingkan dengan vokal solois lainnya, mungkin lagu ini terkesan sederhana, tapi sesungguhnya, dibutuhkan penghayatan yang haruslah on-point yang Elma Dae kemudian eksekusikan. Dari segi vokal, Elma Dae berhasil membuat segala macam amukan rasa menjadi satu kesatuan emosi yang utuh”, terang Barsena Bestandhi.
Pada akhirnya, selaku produser musik “Pisah Baik-Baik”, Adrian Rahmat Purwanto berharap “Pisah Baik-Baik” garapan Elma Dae ini bisa menjadi contoh balada pop modern.
“Keunikan lagu ini adalah bagaimana elemen-elemen tradisional sebuah balada digabungkan dengan ritme-ritme kontemporer yang terinspirasi dari musik jaman sekarang. Syukurlah lirik dan notasi yang digarap Elma Dae sanggup berpadu dengan produksi dan warna musik tersebut. Elma Dae terbukti punya potensi untuk menjadi seorang singer-songwriter,” tutup Adrian Rahmat Purwanto.
Elma Dae merupakan penyanyi wanita yang baru saja bergabung dengan YWMF dan Sony Music Entertainment Indonesia . Elma Dae adalah talenta fresh dengan ciri khas warna vokal yang deep nan mature. Hadir perdana lewat kolaborasi bersama Christie melalui lagu “Bertahan Hati” yang rilis bulan Juli 2022, Elma Dae melanjutkan langkahnya lewat single berjudul “Tapi Sayangnya” yang menjadi karya musik solo perdananya di industri musik Indonesia. Single “Tapi Sayangnya” ini pun dirilis pada bulan Juni 2023. Pada tahun berikutnya, tepatnya di bulan Mei 2024, Elma Dae menunjukkan talentanya sebagai penulis lagu lewat karya solo terbarunya yang bertajuk “Pisah Baik-Baik”. Elma Dae berkarya di bawah naungan label musik Sony Music Entertainment Indonesia.
Kaset.id – ‘Lalahuta’, grup musik yang telah mengukir jejak sukses dengan serangkaian hitsnya, bersiap untuk memperkenalkan single perdana mereka dengan formasi baru. Kevin Widaya, yang akan mengambil peran sebagai vokalis utama, dan akan memimpin perjalanan baru grup ini dengan lagu yang dikenal dengan judul “Dan“.
Sebagai penggemar musik yang setia mungkin mengenali “Dan” sebagai sebuah lagu yang pernah populer pada tahun 90an, yang dinyanyikan oleh Sheila On7. Namun, kali ini, ‘Lalahuta’ akan memberikan sentuhan baru ke dalam lagu ini, memberikan pengalaman mendengarkan yang berbeda namun tetap menghadirkan nuansa indah lagu ini yang sudah dikenal luas.
Single terbaru dari ‘Lalahuta’ dengan formasi baru mereka yang beranggotakan Kevin Widaya, Boni Eko, Allain Hizkia, dan Beno Louloulia dapat dinikmati secara luas oleh para penggemarnya di bulan Juni 2024, dan ini juga menjadi tonggak awal dari perjalanan baru mereka.
Sebagai grup yang telah menorehkan sejumlah hits, termasuk “Tunggu Apa Lagi” (2018), “Buat Apa Mencoba” (2019), “Tak Pernah Salah” (2020), dan single terbaru mereka “123” dan “Radar” (2023), tentunya ekspektasi terhadap “Dan” sangat tinggi. Para personil ‘Lalahuta’ pun menyadari itu.
Dengan kesuksesan masa lalu dan semangat baru dalam formasi mereka, ‘Lalahuta’ siap untuk menghadirkan kembali kekuatan musik mereka dan memperkuat posisi mereka di industri musik Tanah Air.
Kaset.id – Benarkah “The Rain” dikenal karena lagu – lagunya mewakili berbagai kesedihan dalam berbagai sudut pandang? Gimana dengan lagu “Patah Terbelah” yang baru saja dirilis oleh Indra Prasta (vokal, gitar), Aang Anggoro (drum), Ipul Bahri (bass) dan Iwan Tanda (gitar, vokal)? Nampaknya penilaian tersebut ada benarnya karena single terbaru The Rain tersebut juga bercerita tentang kesedihan.
Setelah merilis berbagai lagu yang beraroma kesedihan seperti “Dengar Bisikku, Tolong Aku, Terlalu Indah, Ujung Pertemuan dan sederet lagu sedih lainnya, The Rain kembali merilis single baru yang menceritakan tentang kesedihan karena sebuah kehilangan yang di beri judul “Patah Terbelah”. Berbeda dengan lagu hebat mereka “Terlatih Patah Hati” yang merupakan lagu sedih bertempo cepat dan sangat anthemic, “Patah Terbelah” justru di aransemen lebih pelan dan mendayu.
“Mungkin ini salah satu lagu paling menyayat hati yang pernah kami rilis. Tentang rindu yang tak mungkin disampaikan lagi secara langsung karena keadaan yang sudah berbeda. Tentang mengikhlaskan”, ujar Iwan Tanda, gitaris The Rain.
Jika kita dengarkan secara lirik, single “Patah Terbelah” dari The Rain, adalah sebuah lagu yang memberikan banyak ruang cerita bagi pendengarnya. Rasa sedih, kehilangan, bangga bahkan rasa syukur tercampur indah di lagu ini.
“Kami menyerahkan cerita lagu ini pada yang mendengarnya. Lagu ini adalah milikmu yang pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti. Dan meskipun tidak bersamanya lagi, kamu sangat berterima kasih akan kehadirannya di hidupmu”, terang Indra Prasta, vokalis dan penulis sebagian besar lagu- lagu The Rain.
Lagu “Patah Terbelah” ini juga menjadi jembatan menuju album studio ke-8 The Rain yang rencananya akan dirilis di momen ulang tahun ke-23 THE RAIN pada akhir tahun 2024, Hingga kini, The Rain tetap setia bersama dan tetap kompak bertahan dengan formasi awal.
“Patah Terbelah” dirilis di bawah bendera Heavy Rain Records, label independen milik The Rain, bekerja sama dengan MK Records.
Kaset.id – Komunitas Salihara bekerja sama dengan Goethe Institut mempersembahkan sebuah pertunjukan dengan judul “Hutan”. Pertunjukan ini merupakan instalasi suara performatif di mana pengunjung akan menikmati pengalaman suara yang diambil dari hutan Rungan, Kalimantan Tengah, dengan koreografi yang imajinatif dan eksploratif.
“Hutan” merupakan karya dari Katia Engel dan Ari Ersandi yang dikerjakan oleh para seniman dari penari, koreografer serta penata suara dan masing-masing berasal dari Long Penaneh (Kalimantan Tengah), Lampung, Berlin, Budapest, dan Yogyakarta ketika mendengarkan rekaman suara hutan Rungan di Kalimantan Tengah.
Karya ini merupakan sebuah kontemplasi tentang krisis saat ini, yang bukan melulu tentang lingkungan, tetapi juga perseptual. “Hutan” mengajak kita untuk merasakan suasana hutan Rungan yang diputar terus selama delapan jam di dalam Teater Salihara di mana pengunjung bebas keluar masuk dari 14:00 – 22:00 WIB. Tidak hanya menampilkan instalasi suara, karya ini juga menghadirkan koreografi tiga penari yang bisa dinikmati oleh pengunjung.
“Hutan” merupakan sebuah jawaban atas rangkaian pertanyaan tertulis oleh Katia dan Ari sebagai latar belakang dari karya yang akan dipresentasikan di Salihara,
“Jika hutan bisa bersuara, apa yang bisa ia ungkapkan tentang eksistensi kita, manusia? Dapatkah paduan suara hutan yang kompleks ditimbang sebagai bagian ingatan kolektif tubuh kita semua? Apakah mendengarkan irama dan frekuensi non-manusia di dalam hutan menciptakan pergeseran di dalam indra pendengaran kita?”
Berbeda dengan beberapa pertunjukan di Teater Salihara sebelumnya, karya yang berlangsung selama delapan jam ini mereplika siklus hari dari sebelum matahari terbit hingga gelap malam. Pengunjung bebas untuk masuk dan keluar ruang teater selama durasi; dan di dalam, mereka pun bebas berdiri, duduk atau berbaring, menikmati.
Untuk bisa menikmati pengalaman ini secara langsung, calon pengunjung bisa melakukan pemesanan tiket di tiket.salihara.org dengan harga Rp110.000 (umum) dan Rp55.000 (pelajar/mahasiswa). Instalasi suara performatif ini akan dilangsungkan pada 22-23 Juni 2024 di mana pada 15:00 – 17:00 WIB merupakan waktu yang terbaik bagi pengunjung anak-anak.
Kaset.id – Satu lagi film horor bakal tayang di layar biokop kesayangan kita semua. Di klaim sebagai film horor yang menyatukan genre horor dan laga, film “Marni : The Story Of Wewe Gombel” bakal menakuti para penikmat film horor tanah air mulai hari Kamis, tanggal 27 Juni 2024.
Film “Marni : The Story Of Wewe Gombel” adalah sebuah karya kolaborasi dari SIEN Entertainment, RA Pictures, Legacy Pictures, A&Z Films, dan JJ Global Group. Film horor yang di sutradarai oleh Billy Christian ini coba mengupas awal dari cerita legenda Wewe Gombel berasal.
Menurut Billy tantangan dalam menyutradarai film yang menggabungkan dua genre ini adalah dengan adanya koreo fighting yang masih belum banyak di eksplore oleh sineas film Indonesia, dimana sebelumnya sosok hantu hanya digambarkan statis sedangkan di film “Marni : The Story Of Wewe Gombel” ini sosok hantunya menunjukkan gerakan – gerakan yang sangat dinamis, yaitu melakukan koreo fighting. Karena di film ini hampir seluruh adegan aksinya diperankan oleh mereka sendiri.
“Walaupun sudah melibatkan Uwais Team sebagai konsultan koreo fighting, saya tetap selalu mengingatkan agar adegan setan – setan yang sedang melawan manusia tidak terlalu keliatan diatur koreo fightingnya”, terang Billy Christian sang sutradara film “Marni : The Story Of Wewe Gombel”.
“Ini horor ada perbedaan, tidak hanya fighting dan stylish tapi ada sedikit style yang harus diperhatikan. Kita ingin membagi chemistry dalam film horor ini sedikitnya memberikan warna yang berbeda dari segi action dan lebih ke thriller-nya”, terang Uwais Team selaku konsultan fighting choreography film ini.
SIEN Entertainment bersama RA Pictures, Legacy Pictures, A&Z Films, dan JJ Global Group, telah menggelar Gala Premiere di XXI Epicentrum, Jakarta, Acara ini dihadiri oleh para pcmain film, sutradara, produser, dan tamu undangan lainnya, termasuk deretan selebriti ternama.
Dekorasi mewah namun tetap menyeramkan menghiasi seluruh area bioskop, menciptakan suasana mencekam yang selaras dengan tema film tapi juga menghadirkan suasana mewah dan modern. Penampilan para magician (Magic x Horror Action Film) yang hadir menghibur tamu untuk kian menambah kesan mistis dan misterius suasana Gala Premiere “Marni : The Story Of Wewe Gombel”
“Marni : The Story Of Wewe Gombel” adalah sebuah pemikiran sang Produser Fransen Susanto untuk meramu sebuah film dengan perpaduan antara Horor yang mencekam dengan adegan action yang memukau.
“Saat ini Uwais Team adalah tim koreo fighting terbaik di Indonesia dan untuk menghasilkan karya terbaik, kita harus memakai orang-orang terbaik di bidangnya.” ujar Fransen Susanto.
Film horror action “Marni : The Story Of Wewe Gombel”dibintangi oleh aktor & aktris ternama untuk berperan dalam film tersebut, diantaranya adalah: Ismi Melinda, Ilannah Al Rashid, Amanda Rigby, Athar Barakbah, Reza Hilman, Frislly Herlind, Shareefa Dhaanis, Mathias Muchus, Djenar Maesa Ayu, Roy Marten, Voland Humonggio, dan masih banyak lagi.
“Film horor ini tidak hanya memberikan pengalaman menyeramkan tapi juga mempunyai pesan yang sangat kuat terhadap feminisme, keluarga dan tantangan seorang single parent yang berjuang untuk menjaga keutuhan keluarganya” kata Hannah Al Rashid pemeran tokoh Rahayu.
“Untuk mempersiapkan diri melakukan adeganadegan aksi disini ia melakukan latihan rutin, selain latihan pada saat workshop dari yang diadakan oleh SHEN Entertainment, aku juga latihan dirumah terlebih latihan flexibility tubuh karena disini banyak adegan fighting yang mengharuskan badan aku untuk flexible untuk fight dengan lawan main aku. Dan aku juga terbantu oleh Uwais Team yang sangat professional dan sangat well prepared dalam mempersiapkan tiap scene fighting,” ujar Ismi Melinda yang memerankan tokoh Marni.