Friday, July 24, 2026
Home Blog Page 68

Reality Club tampil di kanal Youtube live Audiotree

0

Kaset.id – Di tengah “North America Tour 2024“ yang berhasil digelar pada bulan Maret 2024 lalu, grup musik asal Jakarta, Reality Club, berkesempatan tampil di kanal live session terkemuka di YouTube Audiotree yang berbasis di Chicago, ketika berada di Chicago untuk perhentian keenam North America Tour mereka.

Hal ini menjadikan Reality Club sebagai musisi keempat dari Indonesia yang pernah tampil di kanal Audiotree, setelah Stars and Rabbit, SURN dan Jangar. Penampilan Reality Club di “Audiotree Live” ditayangkan secara publik di YouTube pada hari Jumat (21/06) lalu, disertai dengan perilisan audio dari penampilan live mereka di semua streaming platform pada waktu yang sama.

Audiotree adalah kanal Youtube yang fokus pada kancah musik indie di seluruh dunia, dan menjadi wadah bagi para musisi independen untuk berkembang.

Audiotree sangat populer, dengan lebih dari 800.000 subscribers, dan mencapai lebih dari 350 juta views di semua video mereka. Konten utama mereka, “Audiotree Live”, sesuai dengan judulnya, memberikan kesempatan kepada para musisi independen untuk menampilkan lagu-lagu mereka secara langsung di studio Audiotree, yang kemudian akan dipromosikan di kanal YouTube mereka. Musisi-musisi populer selama bertahun-tahun telah tampil sebelumnya di Audiotree Live seperti Mitski, Phum Viphurit, dan Greta Van Fleet.

Unit psychedelic pop asal kota Medan, Yoko City Ghost rilis album debut

0

Kaset.id – “Sputnik-1” adalah album pertama ‘Yoko City Ghost’, unit psychedelic pop asal kota Medan, Indonesia. Nama Sputnik sendiri diambil dari nama sebuah satelit buatan Uni Soviet yang pertama kali berhasil menembus luar angkasa. Sputnik-1 diharapkan bisa menjadi satelit perdana bagi Yoko City Ghost dalam mengabarkan eksistensi mereka.

Ada 10 (sepuluh) lagu dengan 10 (sepuluh) gaya yang berbeda di album debut Yoko City Ghost ini. Tampak bagaimana referensi musik dari masing-masing personel berpengaruh sangat kuat dan menciptakan eklektik dalam tiap track. Perpaduan antara sound British invation dan neo-psychedelic ala Tame Impala, Temples, dan Australian rock pada umumnya, bersatu padu dengan penulisan lirik yang puitik, yang tetap menjadi garis penghubung antar satu lagu ke lagu berikutnya.

Pengerjaan album ini dilakukan kurang lebih 5 (lima) bulan lamanya di studio rekaman Ringo Records milik pentolan Yoko City Ghost, Tengku Ariy. Album ini dirilis dalam bentuk fisik dan digital pada tanggal 25 Juni 2024 lalu. Rilisan fisik album Sputnik-1 didistribusikan oleh label indie, Parttime Rekords dan rilisan digital dirilis oleh label Ringo Records. Sampul album Sputnik-1 ini digambar manual oleh Fandy Tjahya, seniman asal Medan yang menggambarkan sebuah satelit yang dianalogikan sebagai jangka, sebagai salah satu lambang keilmuan.

Di tanggal 30 Juni 2024 ini Yoko City Ghost akan mengadakan album showcase (konser album) dengan membawakan lagu-lagu di dalam album Sputnik-1 yang bertemakan “Melepas Keberangkatan Sputnik-1”. Di showcase ini, Yoko City Ghost mengajak musisi-musisi Medan lainnya untuk berkolaborasi di beberapa lagu, seperti Keke Alysha (eks. Gitaris Shadowplay), Namira (keybordis Caterpillar), dan Aga (vokalis Depresi Demon/eks gitaris Yoko City Ghost). Konser ini akan dilaksanakan di Kafka Space, Medan.

Yoko City Ghost adalah unit indie rock asal kota Medan, Indonesia. Memadukan psychedelia, dream pop dan vintage vibes, mengkristal dalam eksplorasi sound dan tema eksistensialitas, kefanaan, mimpi dan gejolak personalitas. Saat ini Yoko City Ghost telah menelurkan satu album penuh bertajuk Sputnik-1 dan juga beberapa single. Komposisi Yoko City Ghost terdiri dari Tengku Ariy (bass), Silmi Vana (vokalis, tamborin), Ridho Zuhri (gitaris), Kristian Glahita (organ), Jose Ludofikus (drumer), dan Evan Ewaldo (synthesizer).

Janjikan vibe konser romantis, Jazz Gunung Bromo 2024 beri diskon khusus bagi nasabah BCA

0

Kaset.id – Konser unik Jazz Gunung Bromo kembali akan bergulir di 19 dan 20 juli 2024. Masih bertempat di Amfiteater Jiwa Jawa, Bromo, perhelatan kali ini mengusung konsep, tagline dan pengalaman sebagai konser jazz paling romantis di dunia. Perpaduan musik dan alam menjadi dua komponen kemesraan mengasyikkan untuk menciptakan memori bersama orang-orang tersayang seperti keluarga, sahabat, dan pasangan.

PT Jazz Gunung Indonesia (JGI) sebagai penyelenggara dari Jazz Gunung Bromo siap menyajikan line up pengisi acara yang akan membawa para penonton mendapatkan pengalaman intim dalam menyaksikan konser Jazz Gunung Bromo dengan tampilnya : Elfa’s Singers, Gigi Jazz Project, Vina Panduwinata, Kelapa Muda, Kartabaya, Keubitbit, Kuntari, Noe Clerk Trio, Ring Of Fire Project featuring : Brasszigur Brassband & Ndaru Ndarboy serta banyak lagi sebagai para penampil.

“Selain pertunjukkan jazz paling romantis, Jazz Gunung memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan komposisi penampil musik jazz lebih besar dan juga membuka ruang bagi para musisi jazz muda yang berbakat dan sudah layak tampil di depan para Jama’ah Al-Jazziyah (sebutan penonton Jazz Gunung).” ungkap Bagas Indyatmono, direktur Jazz Gunung Indonesia dalam Press Conference Jazz Gunung Bromo 2024 di Institut français Indonésie (IFI), Jakarta (25/6) yang dihadiri oleh Founder Jazz Gunung Indonesia: Sigit Pramono, Senior VP Corporate Communication BCA: Susanti Nurmalawati, Wakil Atase Kebudayaan IFI-Kedubes Prancis: Bimo Putra, VP Sales & Business Operation Jiwa Jawa: Chandra Hadi Siswoyo, dan sejumlah penampil seperti GIGI, Vina Panduwinata, Elfa’s Singers, dan Kelapa Muda.

Lebih lanjut Bagas mengatakan formula kurasi penampil dilakukan dengan metode LEICA (Legend, Emerging, International, Collaboration / Community, Anchor), jadi Penampil yang dipilih dalam kurasi tersebut harus memiliki 5 kriteria tersebut. Selain itu, sebagai bentuk komitmen event keberlanjutan dan pemberdayaan lokal, Jazz Gunung Bromo menggunakan 85% panitia yang terlibat adalah masyarakat sekitar. Selain itu semua vendor juga lokal dari transportasi, konsumsi, dan penginapan.

Jazz Gunung Bromo 2024 ini merupakan perhelatan yang konsisten digelar ke-16 kalinya sejak tahun 2009. Tahun ini, Jazz Gunung Bromo menjadi event kedua dari rangkaian Jazz Gunung Series 2024, yang akan diselenggarakan di Amfiteater Jiwa Jawa Bromo, desa Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, pada Jumat-Sabtu, 19-20 Juli 2024 mendatang dengan kapasitas sebanyak 2.500 penonton per harinya.

Jazz Gunung Series 2024 hadir karena kebutuhan dari para penikmat musik yang ingin menyaksikan penampilan musisi favorit mereka dengan cara yang berbeda, menyatu dengan atmosfer indahnya alam pegunungan Bromo Tengger Semeru.

“Dengan sajian dan konsep Jazz Gunung yang sudah dijalani selama lebih dari 1 dekade, Jazz Gunung Series 2024 telah memiliki tempat dan peminatnya sendiri. Dan yang terpenting setiap penyelenggaraan Jazz Gunung, ada tetesan ekonomi yang bisa sampai ke masyarakat. Apa yang kami lakukan sejak 16 tahun lalu dengan Jazz Gunung Bromo juga menggerakan orang untuk menyelenggarakan musik jazz di tempat terbuka dan memberikan dampak ekonomi ke masyarakat.” Ungkap Sigit Pramono.

Armand Maulana sebagai salah satu musisi senior yang akan tampil bersama Gigi dengan tajuk “Gigi Jazz Project” mengaku sangat senang terpilih menjadi salah satu penampil di jazz Gunung Bromo 2024 ini.

“Walaupun ada beban karena kami harus nge jazz di acara ini tapi kami sangat merasa senang bisa terlibat di acara keren ini. Selama 30 tahun kami berjalan banyak banget on stage di festival. Beberapa festival jazz pernah mengundang kami. Biasanya di backstage orangnya itu-itu juga. Senangnya kalau masuk ke genre baru, terutama saya dan Thomas bisa ketemu teman-teman musisi jazz di backstage bisa menambah persaudaraan, pertemanan, dan obrolan musik yang berbeda. Romantisme terjadi di sini.” Jelas Armand Maulana sambil berkelakar saat menghadiri jumpa pers Jazz Gunung Bromo di IFI, Jakarta.

Ungkapan rasa senang dan bahagia bisa terlibat di acara ini juga diungkapkan oleh Vina Panduwinata dan para personil Elfa’s Singers yang hadir saat press conference, bahkan mama Ina (sapaan akrab Vina Panduwinata) dan Elfa’s Singer berjanji akan tampil all out selama 1 jam durasi tampil mereka masing – masing.

Penyelenggara Jazz Gunung Bromo 2024 memberikan 3 kategori (reguler, vip, dan vvip) untuk harga tiket harian dan terusan. Reguler HARIAN Rp550.000, TERUSAN Rp850.000. VIP HARIAN Rp 1.200.000, TERUSAN Rp1.900.000, dan VVIP HARIAN Rp 2.000.000, TERUSAN Rp3.700.000.

Sementara itu Senior VP Corporate Communication BCA, Susanti Nurmalawati mengumumkan bahwa BCA sebagai sponsor utama di Jazz Gunung Bromo 2024 akan mendukung seluruh penyelenggaraan konser ini dengan sebaik – baiknya,

“BCA akan mensupport Jazz Gunung Bromo 2024 ini dengan memberikan diskon pembelian tiket sebanyak 15 persen untuk seluruh nasabah BCA, dan informasi ini akan kita sebarkan di puluhan juta nasabah BCA yang tentunya ini sangat bagus buat promosi acara ini ke nasabah – nasabah BCA dimanapun berada”, terang Susanti Nurmalawati.

Rayakan HUT Jakarta, Laleilmanino, Diskoria dan Cecil Yang rilis single “Djakarta”

0

Kaset.id – Merayakan ulang tahun Jakarta ke 497 pada 22 Juni 2024 lalu, kolektif Laleilmanino menghadirkan single bertitel “Djakarta”. Dalam lagu yang mengambil tema kehidupan warga Jakarta ini, Laleilmanino menggandeng beberapa musisi untuk berkolaborasi seperti duo komposer Diskoria, rapper Cecil Yang dan pegiat musik tradisional Yusuf “Oeblet”.

Beragamnya genre musisi yang berkolaborasi adalah upaya eksperimen Laleilmanino memadukan berbagai warna musik sesuai dengan corak manusia Jakarta yang berbeda-beda. Single “Djakarta” sendiri dirilis di bawah bendera Floor Inc., salah satu sub-label dari Sony Music Entertainment Indonesia yang memang fokus untuk rilisan musik EDM dan hip-hop.

Nino dari Laleilmanino mengungkapkan bahwa lirik di lagu “Djakarta” banyak terinspirasi dari perjalanan personalnya bersama sang ayah dan pengalaman tumbuh kembangnya di Jakarta.

“Lagu ini banyak mengambil kisah ayah yang merantau dari Kebumen ke Jakarta. Sebagai perantau, Ayah sering kangen kampung halaman dan pulang naik kereta,” ujar Nino dari Laleilmanino

Dari kisah itulah, dalam single teranyarnya ini, Laleilmanino banyak menceritakan kisah perpisahan dan perjumpaan di Stasiun Jatinegara.

Nino menambahkan bahwa inspirasi cerita ayahnya sebagai perantau yang dituangkan dalam lirik akan membuat lagu ini tidak hanya bisa dinikmati oleh orang yang lahir dan tumbuh di Jakarta saja. “Djakarta” juga bisa dinikmati oleh para perantau, bahkan warga dari daerah lainnya karena lagu ini memotret suasana Jakarta yang begitu kompleks. Tidak hanya itu, Laleilmanino juga menyoroti kebahagiaan warga Jakarta yang tak melulu diukur melalui materi.

Nino yang menggawangi departemen lirik mengatakan bahwa lirik-lirik seperti “senang bukan cuma harta” atau “hidup tak berdasi selalu bawa tawa” adalah pengamatan mereka saat berinteraksi dengan warga dari beragam kelas sosial. Kehidupan Jakarta pun tidak hanya diterjemahkan secara naratif oleh Laleilmanino. Di sini, mereka juga menarasikan Jakarta dengan memberi sentuhan musik tradisional Betawi.

Menggandeng Yusuf “Oeblet”, seorang pegiat musik tradisional yang juga guru musik Nino di masa berseragam putih abu-abu. Oeblet menggunakan alat musik gesek tradisional Betawi bernama Tehyan untuk mengisi beberapa bagian lagu.

“Lagu Djakarta ini juga ingin kami jadikan sebagai ruang dan gelanggang bagi musik tradisional tampil menarasikan Jakarta. Maka, kami mengajak Pak Oeblet yang punya rekam jejak panjang di dunia musik tradisi untuk berkolaborasi di lagu ini,” tukas Nino.

Tidak hanya musik tradisional, kehadiran rapper muda Cecil Yang pun memberi sentuhan urban yang kental melalui warna hip-hopnya. Interaksi antara yang tradisional dan urban di single ini menjadi gambaran corak kehidupan Jakarta yang mentereng dengan kawasan urban, tapi juga dipenuhi kampung kota nan bersahaja. Cécil sendiri adalah seorang rapper muda yang telah merilis beberapa lagu sebelumnya dan baru saja bergabung dengan Sony Music Entertainment Indonesia.

Momen dirilisnya single “Djakarta” juga menjadi sejarah karena inilah pertama kalinya Jakarta merayakan ulang tahun dengan status barunya sebagai Daerah Khusus Jakarta (DKJ). Setelah 60 tahun menyandang status Daerah Khusus Ibukota (DKI) melalui Undang-undang nomor 10 tahun 1964, di tahun ini Jakarta melepaskan status khususnya tersebut.

“Laleilmanino merilis lagu Djakarta di tahun ini sebagai kado sekaligus arsip memori Jakarta yang selama puluhan tahun telah menjadi Daerah Khusus Ibukota. Jakarta adalah rumah bagi jutaan orang selama menjadi ibukota. Single Djakarta adalah kado kami bagi kota dan warga Jakarta,” pungkas Nino.

Lagu “Jujur Saja” kembali populer, Dimas Supartono siap lanjutkan cita – cita sang ayah

0

Kaset.idDimas Supartono, putra dari mendiang Tono Supartono sang pendiri Magenta Orchestra sangat bahagia menyambut respon dari diputarnya lagu “Jujur Saja” di banyak radio – radio kenamaan di Indonesia. Lagu lama yang dipopulerkan kembali oleh penyanyi Ira Batti dan komposisi musiknya di kerjakan oleh Andi Rianto ini memang sering diputar di radio beberapa kota besar seperti Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogja dan beberapa kota lain.

Dimas Supartono yang saat ini berkecimpung di bisnis kuliner dan properti ini mengaku bangga atas penghargaan Masyarakat terhadap karya ayahnya tersebut,

“Pastinya saya sangat bahagia dan bangga karya almarhum ayah saya yang dilantunkan Ira Batti ini diperdengarkan kepada banyak pendengar di banyak kota melalui radio – radio nasional dan diputar juga video klipnya di Youtube Channel”, ujar Dimas Supartono.

Melihat banyaknya respon positif masyarakat berkaitan dengan lagu “Jujur Saja” tersebut, putra pertama dari dua bersaudara pasangan Tono Supartono dan Upiek Supartono yang lahir di tanggal 7 Juni 1983 bertekad untuk melanjutkan cita-cita mendiang sang ayah di industri musik Indonesia.

“Saya akan tetap melanjutkan kegiatan ayah saya di industri musik nasional, saya harus berperan di industri musik Indonesia karena musik Indonesia sangat berkembang pesat dengan banyak bermunculannya penyanyi – penyanyi pendatang baru yang berbakat”, jelas Dimas Supartono lagi.

Lagu “Jujur Saja” yang dirilis secara resmi oleh Ira Batti adalah sebuah karya Istimewa dari Tono Supartono. Lagu yang indah ini dinyanyikan secara syahdu oleh Ira Batti dalam sebuah alunan piano yang menawan hasil aransemen dari salah satu aranjer terbaik tanah air yaitu Andi Rianto.

Dimas Supartono berharap lagu “Jujur Saja” ini bisa di terima oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia

“Semoga karya ayah saya lewat lagu ‘Jujur Saja’ yang dilantunkan Ira Batti ini dapat diterima di hati para penikmat musik Indonesia dan para pecinta musik Indonesia bisa menikmati karya beliau yang dilantunkan Ira Batti ini”, tutup Dimas Supartono.

Setia ikuti jejak sang ayah, Ijay Irawan lempar single ke 6 “Delusi”

0

Kaset.id – ‘Ijay Irawan’ hadir memperkenalkan single terbarunya yang berjudul “Delusi”. Musisi enerjik asal Bandung ini meramu lagu yang kental dengan nuansa distorsi dengan tempo yang cukup tinggi tersebut sebagai karya ke 6 nya.

Musik dari single “Delusi” menggambarkan tentang isi lirik lagu yang sedikit sarkas dan “kesal” akan tingkah laku orang yang delusi. Di kemas dengan nuansa rock yang kental, lagu ini menceritakan tentang orang yang selalu ingin tampil hingga melakukan cara apapun agar ia terlihat lebih oleh orang lain.

Lirik lagu “Delusi” ditulis oleh Ijay Irawan berdasarkan pengalaman pribadi menghadapi orang yang penuh intrik. “Delusi” dibuat saat jamming di studio latihan yang dimulai dari pola gitar oleh Puja lalu digarap bersama oleh Ijay, Natta dan Luthfi.

“Delusi” diisi oleh Luthfi Kumis (Drum), Natta (bass), Puja (gitar), Ijay Irawan (guitar & vocal). Untuk perekamannya, drum dan vokal di Sscape studio, lalu untuk gitar dan bass di Kamar 212 studio, sementara itu mixing mastering nya di eksekusi oleh Puja Purnama.

Bakat bermain musik Ijay Irawan merupakan turunan dari sang Ayah, Budi Arab. Ijay Irawan pertama kalinya satu panggung dengan sang Ayah pada usia 9 tahun. Hingga sekarang, Ijay Irawan sangat menyukai musik dengan berbagai macam pengalamannya. Voodoo Dolls adalah band yang membesarkan nama Ijay Irawan di kancah musik khususnya di kota Bandung.

Pada tahun 2018 menjadi awal untuk Ijay merintis solo karir dengan bernyanyi dan bermain gitar. Pada solo karir ini, Ijay sudah mengeluarkan single pertama yang berjudul “Play a drama”, disusul dengan rilisan single kedua yang berjudul “Beda” pada tahun 2019, dan pada tahun 2020 Ijay Irawan merelease kembali single yang berjudul “Unreasonable” featuring Sarah Saputri.

Saat ini rencana kedepan Ijay Irawan siap meluncurkan album.

Band progressive, Discus luncurkan box set berisi 3 CD album

0

Kaset.idDISCUS IS BACK !!! Ya benar Anda tidak salah baca, Discus, pionir musik progresif Indonesia bangkit dari mati suri nya. Tidak tanggung tanggung, Discus langsung meluncurkan box set yang berisi 3 CD yang diedarkan oleh Disk Union Jepang. Hebatnya lagi box set ini langsung duduk di no. 4 best seller di Disk Union Japan’s All Genre international chart, sebuah prestasi yang cukup mengagumkan untuk musisi Indonesia.

Kurang dikenal di negeri sendiri, tapi sohor di seantero dunia. Itulah Discus band yang berdiri pada tahun 1996. Mungkin banyak pembaca yang belum sempat mengenal Discus, band Indonesia yang besar di manca negara. Konsep musik progressive Discus dianggap mempunyai ciri khas unik mengandung elemen rock, jazz, klasik avant-garde, dan etnik Indonesia.

Discus sudah sering tampil di luar negeri, antara lain dalam “Expose Concert Series” di Menlo Park, California, “Knitting Factory” di New York, dan “ProgDay” di North Carolina. Semuanya digelar di Amerika Serikat tahun 2000.

Discus juga tampil dalam “BajaProg” di Baja, Meksiko tahun 2001, “Progsol” di Pratteln, Swiss tahun 2005, dan “FreakShow” di Wurzburg, Jerman tahun 2005 juga tampil di festival “Zappanale” di Bad Doberan, Jerman, tahun 2009.

DIscus meraih dua piala AMI Award 2004, yaitu untuk lagu “Anne” dalam kategori “karya musik rock progresif terbaik”, dan juga untuk album “…Tot Licht!”dalam kategori “Produksi karya musik rock progresif terbaik”.

Album pertama Discus dengan judul 1st diedarkan oleh label Italia Mellow Records pada tahun 1999 dan di Indonesia diedarkan oleh Chico & Ira Productions, sementara album kedua …Tot Licht! diedarkan tahun 2004 oleh Musea Records Perancis dan Gohan Records Jepang, serta Sony PRS di Indonesia. Dua album ini mendapat respon yang sangat baik dari para penggemar musik progresif di seluruh dunia bahkan, pada 1999, sebuah majalah musik Amerika Serikat Expose menjuluki band ini: “…best of the year stuff, this one gets our highest recommendation…”.

Tak cuma Expose yang sering mengulas perjalanan Discus, tapi juga majalah-majalah terbitan Eropa lainnya. Majalah Prog-Resiste di Belgia menempatkan album Discus 1st sebagai lima besar album prog-rock terbaik dunia di akhir 1999. Album 1st dan …Tot Licht! juga mendapat review luar biasa di majalah-majalah musik Inggris, Jerman, Belanda, Belgia, Argentina, Brazil, Uzbekistan, Jerman dan Amerika Serikat. Di Indonesia pengamat musik Denny Sakrie mencatat album Discus 1st sebagai salah satu album jazz terpenting Indonesia sepanjang sejarah di majalah Rolling Stone. Tahun 2004 Majalah musik MTV Trax edisi lokal menyebut Discus sebagai salah 25 musisi paling berpengaruh di Indonesia bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Titiek Puspa dan Koes Plus.

Di Jepang, album …Tot Licht! sempat menduduki posisi chart no.1 best seller all genre di amazon.co.jp selama beberapa waktu di tahun 2011, dan sebuah band jepang memainkan cover lagu Discus di panggung musik progressive di Jepang. Discus juga adalah satu-satunya band Indonesia yang disebut dalam buku The Progressive Rock Handbook (Jerry Lucky, CG Publishing, 2008, ISBN 978-18949-59766)

Untuk box set yang baru edar ini Discus mengeluarkan album live yang direkam di Progsol, Swiss, dimana 3 album ini menjadi satu box set dan dua album pertama dilakukan re-mastering untuk meningkatkan kualitas audio album tersebut, Box set ini terdiri dari 3 CD :

  1. Album 1st remastered dengan bonus track “Contrasts” live at World Music Festival GKJ 2005 feat I G Kompiang Raka.
  2. Album “…Tot licht!” dengan bonus track “System Manipulation” live at Zappanale Festival Jerman 2009 feat Andien dan I G kompiang Raka
  3. Album “Live in Switzerland, the official bootleg” berisi rekaman konser Discus di ProgSol Festival Switzerland 2005. Konser ini direkam oleh Jurg Naegeli, mantan bassist band metal Krokus yang pada saat itu telah menjadi salah satu sound engineer terbaik Switzerland

Box set ini juga lah yang menjadi momentum Discus kembali bermusik setelah ditinggalkan oleh 3 personilnya yang telah berpulang terlebih dahulu yaitu Anto Praboe, Kiki Caloh dan terakhir Eko Partitur.

Melihat sambutan publik terhadap box set Discus, Iwan Hasan sang leader dari Discus langsung mencanangkan untuk membuat single baru sebagai lanjutan dari box set yang beredar juga merencanakan album baru yang sebagian besar musiknya sudah diciptakan oleh Iwan sejak 2007.

Discus adalah :

Iwan Hasan : Lead Vocals, Guitar, 21-string HarpGuitar,

Keyboards Fadhil Indra : Lead Vocals, Keyboards, Electronic Percussion, Rindik, Ethnic Percussion

Anto Praboe : Clarinet, Flute, Saxophones, Pui-pui, Suling, Growls, Vocals

Kiki Caloh : Bass, Lead Vocals

Eko Partitur : Violin, Vocals

Krisna Prameswara : Keyboards

Hayunaji : Drums

Nonie Cindy : Lead Vocals (1996-2004, 2023)

Yuyun : Lead Vocals, Ethnic Vocals, Percussion (2004-sekarang)

Sigit Wardana rayakan HUT Jakarta ke 497 di “Jakarta Light Festival 2024”

0

Kaset.idSigit Wardana, penyanyi, pencipta lagu sekaligus produser ini tampil di  Jakarta Light Festival 2024 dalam rangkaian merayakan HUT Kota Jakarta ke-497 di Kota Tua.

Dengan gaya casual dengan kaos hijau berbalut jaket hitam dan celana jeans dengan warna senada Sigit Wardana tampil menghibur masyarakat yang merayakan Ulang tahun Kota Jakarta yang ke – 497 di Museum Fatahillah Kota Tua Minggu Malam.

“Selamat Malam Semuanya, perkenalkan saya Sigit Wardana ingin berbagai kebahagiaan di malam ini merayakan ulangtahun Kota Jakarta yang ke-497. Semoga Kota tercinta kita ini semakin baik dan mempesona,”kata Sigit Wardana diatas panggung Jakarta Light Festival 2024, Minggu malam (23/6/2024).

“Kita Seneng – senang bareng dan nyanyi -nyanyi bareng ya,”tambah Sigit Wardana.

Sigit Wardana dalam Jakarta Light Festival 2024 membawakan 5 lagu termasuk lagu Solonya dari mini album “November“.

Tampil energik, Sigit Wardana dengan 5 lagu membuat penonton yang memadati halaman Kota Tua ikut menyanyikan lagu dan musik yang dibawakan.

Perlu di informasikan bahwa Jakarta Light Festival 2024 digelar selama dua hari yaitu tanggal 22 Juni dan 23 Juni tahun 2024.

Jakarta Light Festival merupakan inisiasi dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Daerah Khusus Jakarta bersama Arte Group, Sembilan Matahari, dan Creative Tech Production.

Acara ini dimulai pukul 19.30 WIB, Warga pun memadati kawasan tersebut. Pertunjukan salah satunya berisi video mapping.

Mereka semua kompak duduk di bawah, sambil menyaksikan pertunjukan yang ada. Rata-rata pengunjung yang datang adalah orang tua, yang membawa anak-anaknya. Untuk menyaksikan video mapping dan artis – artis yang tampil malam itu. Selamat Ulang tahun Kota Jakarta ke-497. (By Eny Handayanih)

Segera tayang “All Access to Rossa 25 Shining Years”, Film dokumenter perjuangan Rossa

0

Kaset.id — Selama 25 tahun, Rossa telah memukau publik dengan suara merdunya yang khas dan pesonanya yang memikat. Namun, di balik gemerlap panggung hiburan, tersimpan kisah-kisah inspiratif dan perjuangan penyanyi bernama asli Sri Rosa Roslaina Handiyani yang tak terduga. Lika-liku kehidupan, perjuangan penuh tangis, kesedihan yang ia pendam sendiri, perjalanan emosional sang diva dan momen keemasan yang tak pernah terungkap sebelumnya akan terungkap dalam film dokumenter “All Access to Rossa 25 Shining Years”.

”Film dokumenter “All Access to Rossa 25 Shining Years” diproduksi oleh Inspire Pictures bersama Sinemaku Pictures dan Time International Films, disutradarai Ani Ema Susanti. Dalam film ini, Rossa juga menjadi produser eksekutif bersama Irwan D. Mussry, Prilly Latuconsina dan P. Intan Sari. Sementara Umay Shahab, Inarah Syarafina, Yahni Damayanti, Boy Rianto Latu bertindak sebagai produser.

Di balik pencapaiannya sebagai diva Indonesia, film “All Access to Rossa 25 Shining Years” akan menunjukkan Rossa yang juga sejatinya adalah manusia. Sebuah kesempatan untuk mengenal Rossa lebih dekat. Melihat sisi lain diva yang jarang diketahui, momen-momen penuh tangis dan perjuangan yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat dan inspiratif.

Dalam film dokumenter yang menceritakan momentum 25 tahunnya berkarier di industri musik, “All Access to Rossa 25 Shining Years Years” secara khusus juga akan menghadirkan kisah-kisah di balik perjalanan konser tersebut termasuk orang-orang yang terlibat di balik layar dan para kolaborator, mulai dari Andi Rianto, Melly Goeslaw, Ariel, Afgan, Boy William, Lyodra, hingga Eka Gustiwana, dimana mereka memberikan sudut pandang mereka tentang sosok Rossa, baik sebagai diva di atas panggung, maupun sebagai ibu dan seorang wanita dalam kehidupan personalnya.

Dengan karier yang membentang panjang dan masih eksis hingga saat ini, tentu Rossa berhasil membangun puluhan jutaan fans yang sangat loyal dari berbagai kalangan usia, bahkan lintas negara. Lagu-lagunya selalu menemani momen jatuh cinta hingga patah hati. Temukan kisah menarik di balik lagu-lagu hits Rossa yang menemani perjalanan hidup banyak orang.

Bagaimana lagu-lagu tersebut diciptakan, apa makna di baliknya, dan bagaimana lagu-lagu itu merepresentasikan perjalanan hidup Rossa. Cerita juga akan dihadirkan melalui perspektif dari orang-orang terdekatnya, termasuk sang anak, keluarga, dan para sahabatnya di dunia musik.

“Setelah momentum konser 25 tahun yang sangat berarti, melalui film ini saya juga ingin membagikan kisah-kisah yang selama ini belum pernah saya bagikan ke banyak orang. Selama ini, saya mungkin dikenal sebagai sosok yang tidak pernah membagikan kesedihan atau menunjukkan apa yang sedang saya alami namun melalui film ini semoga penonton Indonesia bisa lebih mengenal perjalanan saya,” kata Rossa tentang film dokumenter “All Access to Rossa 25 Shining Years.

”Prilly Latuconsina, salah satu produser eksekutif film dokumenter “All Access to Rossa 25 Shining Years” dari Sinemaku Pictures menambahkan, ia merasa terhormat dipercaya untuk menjadi bagian dalam menyajikan karya dari sosok penting di industri musik Indonesia. Bagi Prilly, Rossa adalah inspirasi yang sesungguhnya bukan saja bagi perempuan tapi untuk semua kalangan.

“Rossa adalah sosok yang sangat menginspirasi saya dalam berkarya dan berkarier. Selalu memberikan yang terbaik dan bisa meninggalkan legacy. Sinemaku Pictures merasa bangga dan terhormat bisa dipercaya untuk terlibat dalam film dokumenter ini yang akan segera tayang di bioskop tahun ini. Semoga, kisah dari Rossa bisa menginspirasi kita semua,” kata Prilly Latuconsina.

Film “All Access to Rossa 25 Shining Years” juga mendapat dukungan dan apresiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenparekraf). Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan dukungannya terhadap film “All Access to Rossa 25 Shining Years” yang menghadirkan sisi inspiratif dari sosok diva Indonesia, Rossa, dan bisa dijadikan pelajaran bagi para penonton dan para musisi pemula dalam bermimpi meniti karier panjang di industri kreatif khususnya di subsektor musik.

Melalui film ini, penonton juga bisa melihat bagaimana di balik kerja keras seorang musisi yang selalu menghibur di atas panggung. Menparekraf Sandiaga berharap film “All Access to Rossa 25 Shining Years” bisa meraih sukses dan diterima oleh penonton luas Indonesia dan juga di mancanegara. Nantikan informasi terbaru mengenai film dokumenter “All Access to Rossa 25 Shining Years” melalui akun Instagram @rossaconcert, @inspire_idn, dan @sinemaku.pictures.

Rayakan HUT Jakarta, Galeri Indonesia Kaya gelar lenong Betawi

0

Kaset.id – Tepat di HUT kota Jakarta ke-497, Galeri Indonesia Kaya mengajak penikmat seni untuk merayakannya dengan menyaksikan pertunjukan bertajuk “Seribu Akal Si Gede Boong”. Pertunjukan yang berkonsep lenong ini menghadirkan musik dan juga tarian Betawi bersama grup lenong Betawi yang dibina oleh Almh. Mpok Nori, Sinar Norray dan juga seniman yang terkenal melalui Si Doel Anak Sekolahan, Mandra.

 “Menghadirkan pertunjukan seni yang kental dengan kebudayaan Betawi menjadi salah satu cara yang kami lakukan untuk merayakan HUT Jakarta ke-497. Melalui pertunjukan “Seribu Akal Si Gede Boong”, kami ingin menghadirkan kekayaan budaya dan sejarah Jakarta kepada masyarakat luas, untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga dan merayakan warisan budaya kita. Dikemas dengan balutan komedi, semoga para penikmat seni yang hadir pada sore hari ini dapat terhibur, mendapatkan wawasan baru serta merasakan kemeriahan HUT Jakarta bersama para seniman yang  memiliki darah Betawi yaitu Sinar Norray dan Mandra. Selamat ulang tahun kota Jakarta!” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya. 

Selama kurang lebih 60 menit, penikmat seni dihibur dengan cerita lucu dan cerdas tentang Gede Boong yang penuh dengan permainan kata-kata dan situasi komedi khas Betawi. Pertunjukan dibuka dengan tarian Betawi yang dengan diiringi oleh musik serta nyanyian Betawi. Pertunjukan “Seribu Akal Si Gede Boong” merupakan sebuah komedi (bodoran) yang mengisahkan petualangan kocak dari anak Betawi dengan cerita-cerita bohongnya yang mengundang tawa dan pelajaran berharga. Dengan penampilan khusus dari komedian seperti Mandra dan artis Betawi terkenal, acara ini menawarkan humor segar dan situasi komedi yang khas, diiringi oleh musik dan tarian tradisional Betawi. Cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan penonton pada kekayaan budaya Betawi melalui cerita dan pertunjukan yang penuh warna.

“Melalui kombinasi musik, tarian dan bodoran Betawi ala Mandra, kami ingin menghibur sambil memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada masyarakat, terutama generasi muda tepat di momen ulang tahun Jakarta. Kami juga ingin menjembatani penikmat seni dari beragam generasi dengan perpaduan elemen tradisi dan modern dalam pertunjukan ini, sehingga para penikmat seni dapat mengapresiasi keindahan dan keunikannya budaya Betawi. Sehingga pertunjukan ini dapat menghibur, tetapi juga untuk memupuk rasa bangga dan kecintaan terhadap budaya Betawi yang kaya akan sejarah dan tradisi,” ujar Mpok Engkar Karmilasari, selaku pemimpin Sinar Norray.

“Ini pertama kalinya gue tampil di sini, siap ngibur kalian semua sambil ngenalin budaya Betawi. Selain bikin ketawa, ada pesan dan nilai-nilai budaya Betawi yang gue sisipin di pertunjukan. Semoga penampilan tadi bisa diterima dan jadi sajian akhir pekan yang seru dan menghibur, biar perayaan HUT Jakarta makin meriah,” ujar Mandra dengan gaya khasnya.

Sinar Norray (SiNorray) merupakan gabungan dari kata sinar dan Norray, nama panggilan panggung (Almh) Ibu Hj. Nori, yang terkenal dengan nama Mpok Nori. Berdirinya Sanggar Sinar Norray di tahun 1995 berawal dari ketidaksengajaan yang kemudian berlanjut menjadi wadah seni Betawi tradisional. Dipimpin oleh Mpok Nori, Sinar Norray mulai melakukan pementasan Lenong betawi. Seiring berjalannya waktu, sanggar Sinar Norray mulai menyajikan berbagai pertunjukan kesenian Betawi seperti tari dan musik. Setelah ditinggal selama-lamanya oleh Mpok Nori, Sinar Norray dipimpin oleh Mpok Engkar Karmilasari. Pada tahun 2015, SiNorray merilis sebuah album yang mengaransemen ulang lagu-lagu gambang kromong Betawi dengan sentuhan tradisi modern.