Monday, August 10, 2026
Home Blog Page 11

Jelang rilis album, Inheritors luncurkan single “Cheating Death”

0
Unit thrash metal asal Malang, Inheritors, kembali melanjutkan fase comeback mereka di 2026 lewat single baru berjudul “Cheating Death”. Lagu ini lahir dari refleksi personal para personelnya yang pernah berada di ambang kematian, sekaligus kegemaran kolektif mereka terhadap tema horor dan thriller seperti film Final Destination. “Cheating Death” berbicara tentang ilusi manusia yang merasa bisa mengakali kematian, padahal kematian selalu menemukan jalannya sendiri.
Cheating-Death_Artwork
Cheating-Death_Artwork

“Cheating Death” menandai sisi Inheritors yang paling gelap dan buas sejauh ini. Riff thrash cepat dengan nuansa old school proto-death thrash metal akhir 80-an dipadukan dengan komposisi yang lebih padat, groove yang lebih kejam, serta breakdown dan solo gitar yang agresif. Referensi era Kill ’Em All (Metallica) hingga Pleasure to Kill (Kreator) terasa kuat, dan juga spirit Sepultura era awal menjadi benang merah utama, namun diramu tanpa terjebak nostalgia mentah.

Single ini juga menjadi debut resmi Galih sebagai gitaris baru Inheritors, menjadikan formasi ini untuk pertama kalinya menggunakan dua gitaris. Meski datang dari latar non-thrash, Galih justru membawa pendekatan yang lebih eksploratif dan segar, memperkaya karakter riff dan solo tanpa mengaburkan identitas gelap Inheritors. Kehadirannya membuat sound band terasa lebih padat, heavier, dan terbuka ke materi-materi yang lebih luas.

Inheritors
Inheritors

Saat ini Inheritors di perkuat oleh : Dion (Lead Vocals), Patrick (Lead Guitars), Galih (Rhythm Guitars), Obed (Bass Guitars, Backing Vocals) dan Rufa (Drums, Percussion).

“Cheating Death” merupakan bagian dari strategi rilis single bertahap menuju album penuh perdana Inheritors. Album tersebut direncanakan menjadi kolase perkembangan thrash metal, dari era 80-an hingga 2000-an, dengan tiap lagu membawa karakter dan pendekatan yang berbeda. Setelah delapan tahun hiatus, Inheritors menegaskan bahwa musik kini menjadi medium katarsis, penyaluran energi negatif, sekaligus warisan yang ingin mereka tinggalkan.

Inheritors
Inheritors

Dengan bagian-bagian yang dirancang untuk memicu moshpit sejak intro hingga akhir lagu, “Cheating Death” adalah pernyataan bahwa Inheritors belum selesai. Mereka mungkin tidak bisa mencurangi takdir, tapi mereka bisa menantangnya dengan distorsi, kecepatan, dan kegelapan.

Idgitaf berbagi panggung dengan Teman Tuli di “KLBB Fest”

0
Idgitaf selalu memberikan berbagai kejutan dalam penampilannya di atas panggung. Salah satunya yakni penampilannya di KLBB Festival 2026 yang berlangsung di Stadion Madya GBK bukan sekadar setlist penuh lagu favorit. Di momen tersebut, Idgitaf menghadirkan sesuatu yang lebih bermakna: berbagi panggung bersama komunitas Teman Tuli dalam sebuah kolaborasi yang hangat, emosional, dan inklusif.
Idgitaf On Stage
Idgitaf On Stage

Sejak awal tampil, Idgitaf memang ingin memastikan bahwa musiknya bisa dinikmati semua orang tanpa terkecuali. Sore itu, pesan tersebut diwujudkan secara nyata. Komunitas Teman Tuli turut hadir di atas panggung, membawakan interpretasi visual lewat gerakan dan bahasa isyarat yang menyatu dengan aransemen musik. Hasilnya, penonton tidak hanya mendengar lagu, melainkan juga melihat dan merasakan setiap emosi yang disampaikan.

Beberapa karya terbaru Idgitaf seperti “Rutinitas” dan “Sedia Aku Sebelum Hujan” menjadi highlight kolaborasi ini. Saat lirik-lirik reflektif Idgitaf mengalun, teman-teman dari komunitas Teman Tuli menerjemahkannya ke dalam seni tari yang kuat dan penuh ekspresi. Momen tersebut menjadi salah satu penampilan Teman Tuli di panggung festival besar, sekaligus membuka diskusi tentang pentingnya akses dan representasi dalam industri konser musik Indonesia.

Idgitaf On Stage
Idgitaf On Stage

“Di hari itu ada hati yang berbicara, jiwa yang mendengar, dan telinga yang bergema. Buatku, musik selalu lebih luas dari sekadar suara,” ujar Idgitaf.

Ia juga menegaskan bahwa baginya, musik adalah hak semua orang. “Musik adalah hak manusia paling dasar. Bukan privilege untuk segelintir orang. Konser seharusnya nyaman untuk semua orang. Kalau belum bisa kita lakukan itu, berarti kita belum benar-benar inklusif.”

Idgitaf On Stage
Idgitaf On Stage

Kolaborasi ini bukan hanya soal satu penampilan, tapi juga tentang langkah kecil yang konsisten untuk menciptakan ruang yang lebih aman dan setara di industri kreatif. “Ini bagian dari usaha-usaha kecil tentang bertahan dan terus berproses, meski hujan tak kunjung reda,” tambahnya.

Melalui panggung KLBB Festival 2026, Idgitaf kembali menunjukkan bahwa musik tak berhenti di suara. Ia hidup dalam getaran, visual, dan rasa—dan malam itu, semua orang bisa menjadi bagian dari pengalaman yang sama.

Tayang lebaran, film “Pelangi di Mars” jadi karya revolusioner

0
Pasca dirilisnya Official Trailer “Pelangi di Mars”, film ini langsung mendapat respons yang positif dari pecinta film Tanah Air. Film terbaru produksi Mahakarya Pictures garapan sutradara kondang Upie Guava ini berhasil memikat warganet lewat visual yang memukau dan teknis yang dianggap revolusioner bagi industri film Indonesia.
Poster film "Pelangi di Mars"
Poster film “Pelangi di Mars”

Namun, di balik durasi trailer “Pelangi di Mars” yang singkat tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus membanggakan. Menghadirkan film anak-anak berkualitas yang dijadwalkan tayang Lebaran 18 Maret 2026 ini ternyata memakan waktu produksi lebih dari lima tahun.

Sutradara Upie Guava tidak main-main dalam merajut visi film ini. Tumbuh besar dengan asupan film-film sci-fi ikonik Hollywood seperti Jurassic Park dan Star Wars, Upie memiliki kerinduan mendalam agar anak-anak Indonesia memiliki pahlawan dan mimpi serupa dari negeri sendiri lewat film “Pelangi di Mars”.

“Saya ingin dari menonton “Pelangi di Mars”, anak-anak Indonesia bisa berpikir kalau mereka boleh bermimpi setinggi langit, dan mereka mampu menggapainya,” ujar Upie Guava.

Visi besar inilah yang melahirkan karakter Pelangi, sosok anak pertama yang lahir di Planet Mars. Lewat Pelangi, Upie ingin menceritakan kegigihan anak Indonesia dalam upaya menyelamatkan dunia, sebuah pesan moral yang kuat dibalut dengan kemasan teknologi mutakhir.

Upie Guava
Upie Guava

Menggarap film sci-fi di Indonesia bukanlah perkara mudah, terutama ketika Upie Guava bersikeras menggunakan teknologi Extended Reality (XR) atau virtual production. Pada tahun 2020, teknologi ini hampir tidak terdengar di industri perfilman tanah air.

Dendi Reynando, selaku produser, mengenang betapa beratnya fase pengembangan yang mereka lalui. Mereka tidak hanya menulis skenario, tapi juga “membangun pondasi” teknologi yang belum ada sebelumnya.

“Di saat yang bersamaan kami mengembangkan cerita “Pelangi di Mars”, kami juga memperkenalkan dan mengembangkan teknologi ini di Indonesia. Dari awal kami tahu risikonya, dan kadang kami bahkan mikir kalau membuat film ini hampir mustahil,” ungkap Dendi.

Dendi Reynando
Dendi Reynando

Dendi mengibaratkan proses lima tahun ini seperti tersesat di belantara hutan yang asing. “Perjalanan film ini seakan-akan kami nyasar di dalam hutan, mencari jalan keluarnya. Untungnya di perjalanan kami banyak orang-orang yang ingin ikut nyasar bareng di hutan, dan akhirnya bisa berhasil keluar dengan hasil yang sesuai,” tambahnya sembari tersenyum.

Kerja keras lebih dari setengah dekade ini akhirnya siap dipanen. “Pelangi di Mars” bukan sekadar film anak-anak biasa; ini adalah bukti bahwa sineas Indonesia mampu melampaui batasan teknis demi memberikan tontonan yang edukatif sekaligus sinematik.

Film “Pelangi di Mars” dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran. Ini menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk menyaksikan petualangan lintas planet yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sinema Indonesia.

Cast film "Pelangi Di Mars"
Cast film “Pelangi Di Mars”

Untuk informasi terbaru mengenai proses produksi, behind the scene, dan info tiket, pastikan Anda mengikuti akun media sosial resmi di @pelangidimars dan @mahakaryapictures.

Luna Maya promo poster film “SUZZANNA” terbaru di Blok M

0
Luna Maya mengejutkan warga yang tengah berada di Blok M, Jakarta Selatan, pada Kamis malam, 26 Februari 2026. Di bawah Stasiun MRT Blok M, Luna Maya sempat mengundang keramaian saat ia memperkenalkan penampilannya yang berbeda dan tampak menyeramkan namun sekaligus anggun.
Luna Maya
Luna Maya
Di titik itulah Luna Maya membuka sebuah poster berukuran besar bertulis “SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa”, film horor terbaru persembahan Soraya Intercine Films, yang akan menjadi satu-satunya film Luna di tahun 2026. Membawa sosok ikonik Suzzanna ke Blok M disebut Luna menjadi cara yang tepat untuk mengenalkan kembali ikon horor yang telah menemani penonton Indonesia dari generasi ke generas

“Beliau adalah seorang ikon, yang bisa dibilang menjadi salah satu tokoh ikonik di Indonesia, terutama di perfilman Indonesia. Dan sampai beliau sudah enggak ada pun masih terus diminati dan menjadi legenda,” ujar Luna Maya tentang poster film “SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa” yang ada di Blok M dan menjadi cara untuk mengenalkan kembali sosok Suzzanna.

Di poster tersebut juga menarik karena ada elemen bunga Melati, yang disebut Luna Maya menjadi salah satu ciri khas Suzzanna, termasuk di film-filmnya terdahulu. Di poster film “SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa”, Luna mengenakan roncean bunga melati.

Luna Maya
Luna Maya

“Bunga melati itu kan identik dengan Bunda Suzzanna. Saat syuting, bukan cuma dipakai seperti yang terlihat di poster, aku juga coba makan. Rasanya pahit, tapi aromanya wangi banget,” cerita Luna.

Pada Lebaran tahun ini, Luna berharap semua orang memilih film “SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa” sebagai tayangan mereka dan keluarga. Film ini akan membawa IP Suzzanna ke level baru. Selain Luna, film ini juga dibintangi Reza Rahadian dan suami Suzzanna, Clift Sangra.

Tonton film  “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” pada Lebaran 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti informasi terbaru tentang film ini melalui akun Instagram resmi   @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.

Unit metalcore asal Mojokerto. REVIND rilis single “Forever Still”

0
Band metalcore asal Mojokerto, Indonesia, REVIND, resmi merilis single terbaru mereka berjudul “Forever Still” pada 26 Februari 2026 lalu. Lagu ini menjadi karya paling emosional yang pernah mereka rilis, sebuah elegi tentang kehilangan, cinta, dan kenangan yang tetap hidup meski seseorang telah tiada.
Artwork Forever still
Artwork Forever still

“Forever Still” menceritakan tentang seseorang yang harus menghadapi kenyataan pahit ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang paling ia cintai. Melalui lirik seperti “Still I see Your face every time I close my eyes” dan “You’re forever still in my heart”, REVIND menggambarkan bagaimana duka tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berubah bentuk, hidup dalam ingatan dan perasaan.

Secara musikal, lagu ini memadukan riff berat khas metalcore dengan atmosfer melankolis dan dinamika emosional yang kuat. Breakdown yang intens berpadu dengan bagian melodik yang sendu, menciptakan ruang bagi pendengar untuk merasakan kesedihan, kemarahan, hingga penerimaan dalam satu perjalanan yang utuh dari REVIND.

Vokal yang penuh tekanan emosional memperkuat pesan tentang kehampaan, keterpurukan, dan cinta yang tak pernah padam. Kalimat seperti “Flowers laid out to You, heaven is waiting for You” menjadi simbol perpisahan terakhir yang pahit namun penuh keikhlasan.

REVIND
REVIND

Dengan “Forever Still”, REVIND menunjukkan kedewasaan dalam penulisan lagu dan produksi. Lagu ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap hidup dalam hati orang yang mencintainya. Tema universal ini membuat “Forever Still” relevan bagi siapa pun yang pernah merasakan duka mendalam.

Single ini telah tersedia di seluruh platform digital streaming.

Dari MC, penyiar radio dan jurnalis, akhirnya Kintan rilis single

0
Berawal dari hobi bernyanyi dan keisengan mengikuti lomba karaoke antar jurnalis, langkah seorang penyanyi pendatang baru, Kintan, justru menemukan jalannya ke industri musik. Tak disangka, keberanian mencoba hal baru membawanya pada pengalaman rekaman profesional dan perilisan lagu bernuansa upbeat yang sarat pesan kebahagiaan berjudul “Lets Dance”.
Kintan - Lets Dance Artwork
Kintan – Lets Dance Artwork

Awalnya, Kintan hanya ingin menyalurkan kegemarannya bernyanyi. Namun setelah berhasil meraih juara dua dalam ajang karaoke antar jurnalis, kesempatan pun datang. Tawaran membawakan sebuah lagu dari Fransiscus Eko menjadi titik awal perjalanan musiknya.

“Awalnya iseng ikut lomba karaoke antar jurnalis, alhamdulillah juara dua. Lalu ditawari mas Eko untuk membawakan salah satu lagu. Dari situ akhirnya aku mencoba serius menjalaninya,” ungkap Kintan.

Dikenal kerap membawakan lagu-lagu ballad, kali ini Kintan justru mendapat tantangan berbeda. Lagu upbeat dengan tempo cepat menjadi pengalaman baru yang cukup menantang.

“Ini benar-benar di luar zona nyaman. Biasanya ballad, malah disuruh nyanyi lagu upbeat karena aku suka dance. Kata mas Eko, tantangan wajib dicoba supaya bisa berkembang,” katanya sambil tertawa.

Proses rekaman pun berjalan relatif cepat, sekitar tiga jam. Tantangan terbesar justru terletak pada penguasaan lirik dengan pelafalan cepat yang kerap membuatnya keliru. Meski begitu, dukungan penuh dari tim produksi membuat proses tersebut terasa menyenangkan.

Kintan
Kintan

Kintan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Cadazz Pustaka Musik, label yang menaunginya saat ini.

“Mas Eko dari CPM berani memberikan kesempatan kepada aku yang masih belajar. Di sini bukan cuma soal uang, tapi soal saling mendukung, mendengarkan, dan tumbuh bersama. Nggak semua label punya suasana seperti itu,” jelasnya.

Fransiscus Eko sendiri melihat pertemanan dan kesamaan profesi di bidang jurnalistik nya dengan Kintan merupakan salah satu hal yang memantik munculnya ide untuk menantang Kintan untuk memproduksi single berjudul “Lets Dance” tersebut.

“Kintan itu multi-tasking, dia itu jurnalis, penyiar radio, host dan MC yang juga bisa nyanyi dan nge-dance, tantangan yang saya berikan itu juga bisa dianggap penghargaan saya kepada dia. Saya sengaja kasi lagu upbeat karena saya yakin dia pasti bisa mengeksekusi lagu tersebut. Lagu “Lets Dance” itu ciptaan sahabat saya, Yanda Bebeh, yang juga jadi produser musiknya”, terang Fransiscus Eko selaku executive produser dan produser single tersebut.

Kintan
Kintan

“Lagu “Lets Dance” tercipta dalam waktu yang cukup singkat. Proses penulisan lagunya selesai hanya dalam satu hari, sementara tahap aransemen musik dikerjakan selama kurang lebih dua hingga tiga hari untuk mendapatkan warna dan energi yang benar-benar maksimal’, jelas Yanda Bebeh selaku song writer dan aranjer di single “Lets Dance” ini.

“Inspirasi lagu ini hadir dari fenomena musik K-pop yang sedang begitu mendominasi dan digemari di Indonesia. Nuansa K-pop yang catchy, enerjik, dan easy listening menjadi pondasi utama dalam membangun karakter “Lets Dance”, sebuah lagu yang enak untuk bergoyang dan lepas di lantai dansa”, tambah Yanda Bebeh.

Lagu “Lets Dance” yang dibawakannya Kintan mengusung pesan sederhana namun kuat : keberanian mengekspresikan kebahagiaan lewat gerak tubuh.

“Lagu ini tentang semangat. Jangan ragu mengekspresikan kebahagiaan lewat gerakan badan. Sekaku apa pun, dance itu bikin happy. Banyak orang tanpa sadar menari saat bahagia, jadi jangan ragu buat Bahagia, gerakkan badanmu, and let’s dance!” ujar Kintan.

Kintan
Kintan

“Dari sisi produksi, aransemen diarahkan ke sentuhan EDM modern dengan elemen techno, synth, dan beat elektronik yang kuat. Perpaduan tersebut membuat lagu ini terasa lebih hidup, penuh energi, dan siap menghidupkan suasana di berbagai kesempatan. Dengan semangat fun, fresh, dan penuh vibe positif, “Lets Dance” hadir sebagai anthem untuk siapa saja yang ingin bergerak bebas tanpa beban”, ungkap Yanda.

Ke depan, Kintan berharap bisa terus berkarya dan menghadirkan lagu-lagu yang lebih dalam secara emosional.

“Bismillah, semoga bisa menghasilkan karya lagi. Ingin membawakan lagu yang benar-benar ngena di hati. Kalau bisa sih balik ke ballad. Sekarang lagi pelan-pelan cari ide, temanya tentang melepaskan. Semoga terwujud. Aamiin.”

“Setelah merilis single ini pastinya Kintan harus terus berkarya, bisa jadi single berikutnya dia akan menyanyikan lagu ballad atau malah makin eksis di dance music, tapi yang pasti setelah single “Lets Dance” ini live di seluruh DSP, kita akan coba bikin video musiknya supaya pecinta musik tanah air bisa melihat sosok Kintan sepenuhnya”, ungkap Fransiscus Eko.

Kintan
Kintan

Dengan semangat belajar dan keberanian keluar dari zona nyaman, penyanyi ini membuktikan bahwa perjalanan musik bisa berawal dari mana saja, bahkan dari sebuah lomba karaoke yang awalnya hanya untuk bersenang-senang.

Single debut Kintan yang bertajuk “Lets Dance” ini sudah bisa disimak di seluruh Digital Store Platform kesayangan kita semua.

Credit Title :

Single : Lets Dance

Vocals : Kintan

Song & Lyric : Yanda Bebeh

Production by Cadaazz Pustaka Musik

Executive Producer : Fransiscus Eko

Producer : Fransiscus Eko

Music Producer : Yanda Bebeh

Vocals Recorded at LB4 Studio Recording by Eko Bunglon

Music Recorded by Yanda Bebeh

Guitar. Bass, Keys, Drums played & recorded by Yanda Bebeh

Mixing Mastering by Yanda Bebeh

Photo by : Tri Cahyo Sulistyo

Kintan Artist Management & Contact Person :

Fransiscus Eko (081277666468), Eny Handayanih (08129776547)

Media Relation : Eny Handayanih (08129776547)

Medsos :
@intan_berliana89

@cadaazzpustakamusik

@fransiscuseko19

@yandabebeh

“Ramadhan Jazz Festival” ke 15 umumkan line up nya

0
Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) bekerja sama dengan WartaJazz kembali menggelar kegiatan tahunan bernama “Ramadhan Jazz Festival 2026”. Acara ini kembali digelar ke-15 kalinya untuk memeriahkan bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Ramadhan Jazz Festival Audience
Ramadhan Jazz Festival Audience

Mengusung tema “Harmoni Untuk Negeri”, festival tahun ini menjadi aksi nyata pemuda Indonesia dalam merefleksikan solidaritas bagi saudara-saudari yang terdampak bencana di wilayah Sumatera. Memasuki tahun ke-15, Ramadhan Jazz Festival tetap konsisten sebagai satu-satunya festival jazz di dunia yang diselenggarakan di pelataran masjid selama bulan suci Ramadhan.

Dengan bahasa yang baik serta dilandasi ketulusan cinta kepada Allah SWT dan sesama, maka diharapkan pesan damai dan harmoni Ramadhan Jazz Festival dapat diterima tidak hanya oleh warga Jakarta, namun seluruh elemen masyarakat Indonesia dan dunia.

Andien
Andien

Agus Setiawan Basuni, Managing Director WartaJazz sekaligus Artistic Director dan penggagas Ramadan Jazz Festival, menjelaskan bahwa sejak awal kegiatan dibangun dengan konsep donasi sebagai perwujudan semangat sedekah untuk sesama. Bukan sekadar konser musik biasa, Ramadhan Jazz Festival 2026 adalah gerakan sosial. Seluruh keuntungan dari penjualan tiket akan didonasikan 100% untuk misi kemanusiaan dengan fokus bantuan tahun ini akan disalurkan ke Sumatera Barat melalui program reboisasi hutan dan renovasi masjid.

15th Ramadhan Jazz Festival mengumumkan untuk line up artist seperti Candra Darusman, Nikita Dompas & Detik Waktu Quartet feat. Andien & Adira Kania, Galaxy Big Band Jazz Orchestra, Krakatau X Andre Dinuth X Barry Likumahuwa, Societeit de Harmonie x Natasya Elvira, Sore, Sisitipsi yang telah memastikan kehadirannya dan masih ada musisi lainnya yang akan memeriahkan festival tahun ini. Dan event Ramadhan Jazz Festival 2026 diprediksi akan menyedot perhatian 5.000 pengunjung dengan deretan artis ternama.

Candra Darusman, Nikita Dompas & Detik Waktu Quartet
Candra Darusman, Nikita Dompas & Detik Waktu Quartet

Pradana Indraputra, selaku Ketua Ramadhan Masjid Cut Meutia, bersama Ali Akbar Hasyemi selaku Project Officer Ramadhan Jazz Festival 2026, menyampaikan bahwa acara tahun ini akan digelar pada 6 dan 7 Maret 2026 di Plataran Masjid Cut Meutia.

Mekanisme untuk penonton masih sama seperti sebelumnya, yaitu melalui metode donasi. Teman-teman bisa berdonasi lewat aplikasi Goers atau langsung di lokasi acara (on the spot) saat hari-H.

Ramadhan Jazz Festival
Ramadhan Jazz Festival

Dalam acara main event the 15th Ramadhan Jazz Festival tahun ini ditargetkan akan mendatangkan lebih banyak partisipan dan pengunjung serta dihari oleh tokoh – tokoh ternama, baik dari pengisi acara, tokoh politik, masyarakat, serta duta besar dari negara -negara sahabat.

Warta Jazz merupakan sebuah ekosistem Jazz di Indonesia. Selama 25 tahun secara aktif mempromosikan Jazz (di) Indonesia baik di pasar domestik maupun mancanegara. Hingga kini WartaJazz telah menggelar sedikitnya 8 Jazz Festival dalam satu tahun.

Unit Alternative asal Cirebon, Marryanne rilis maxi single baru

0
Tercatat 1,5 tahun setelah merilis EP / Mini Album “Into the Void”, Marryanne, Unit Shoegaze / Alternative asal Cirebon yang saat ini digawangi oleh Oya (Vocal), Cyril (Guitar & Vocal), Andhik (Bass), Ares (Drum) dan Erlangga (Guitar) akhirnya melepaskan karya terbarunya dalam bentuk Maxi Single yang bertajuk “Feel the Pain”. Dirilis pada 27 Februari 2026, Maxi Single ini menandai perjalanan Marryanne di tahun 2026 setelah menyelesaikan tour kedua mereka “Distant Light Tour” yang menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa.
Marryanne
Marryanne

Maxi Single “Feel the Pain” dari Marryanne ini berisi 2 lagu yakni “Feel the Pain” dan “Forfeit“. Kedua lagu ini terhubung melalui satu alur emosional, menelusuri cerita yang berkelanjutan, bagaimana amarah yang tak terkendali dapat menyebabkan kehilangan dan bagaimana kehilangan itu tetap membekas lama setelah intensitasnya mereda.

Lagu Marryanne yang berjudul “Feel the Pain” berpusat pada amarah sebagai kekuatan yang menghancurkan. Lagu ini menangkap perasaan terjebak dalam pikiran yang berulang, dimana frustrasi berbalik ke dalam dan identitas mulai kabur. Lagu ini mencerminkan luapan emosi, ketika amarah tidak lagi meledak-ledak, tetapi berat, berulang, dan melelahkan. Pergerakan terasa mendesak namun tanpa arah, didorong oleh intensitas daripada kejelasan.

Marryanne
Marryanne

Sementara itu lagu kedua Marryanne yang “Forfeit” melanjutkan cerita setelah amarah mereda, mengungkapkan apa yang tersisa, yakni kehilangan. Dengan latar belakang cahaya lampu kota, lagu ini mengeksplorasi kekosongan yang tertinggal setelah kebisingan mereda. Amarah masih ada, tetapi lebih tenang terjalin dengan kerinduan dan ketidakhadiran. Waktu terasa rapuh, kenangan dikejar daripada dipertahankan, dan koneksi menjadi sesuatu yang ada sebentar sebelum menghilang. Lagu ini merangkul kerentanan, di mana rasa sakit dan keintiman hidup berdampingan dalam momen yang singkat.

Secara musikal, Maxi Single “Feel the Pain” banyak dipengaruhi beberapa musisi, mulai dari Nothing, Life on Venus, Whirr dan Momma. Proses produksinya sendiri berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025.

Maxi Single “Feel the Pain” sudah dapat didengarkan di seluruh Digital Streaming Platform

Credit

Produced by Cyril MF

Music Composed by Cyril MF

Lyrics written by Cyril MF, Andhika DH dan Adam Sudewo

Drum Recorded at Jags Studio (Engineered by Wahyu Setio)

Vocal, Guitar and Bass Recorded at Room No.6 (Engineered by Cyril MF)

Mixed and Mastered by Restu Yawendra at Hypocrite Sound

Artwork by Joyo Luqman

Digital Released by Demajors

Jey Denise luncurkan single kedua bertajuk “No. 1 Priority”

0
Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Jey Denise, resmi merilis single terbarunya berjudul “No. 1 Priority”. Karya ini hadir sebagai sebuah anthem penuh jiwa yang menekankan pentingnya menempatkan diri sendiri sebagai prioritas utama.
Artwork No. 1 Priotity by Jey Denise
Artwork No. 1 Priotity by Jey Denise

Dalam keterangan tertulis, Jey Denise menyampaikan bahwa lagu “No. 1 Priority” merupakan single keduanya. Lagu ini menjadi refleksi perjalanan musikal tentang kemenangan pribadi yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

“Saya ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa kita berhak menempatkan diri sendiri sebagai prioritas, Konsistensi, keyakinan pada diri sendiri, dan keberanian untuk melawan rasa takut adalah hal-hal yang selalu saya pegang dalam perjalanan musik saya. Lagu ‘No. 1 Priority’ adalah refleksi dari itu semua ucap Jey Denise.

Menurut Jey Denise, single ini dibalut dengan nuansa groove awal 2000-an yang ringan dan menyenangkan. Dengan karakter musik tersebut, ia berharap lagunya bisa menjadi teman di berbagai suasana, baik saat bersantai di sore hari, berjalan bersama pasangan, maupun berkumpul dengan teman-teman.

Dalam proses kreatif, Jey Denise mengambil kendali penuh atas produksi dan aransemen lagu. Hal ini menunjukkan komitmen serta keterlibatan mendalam dirinya dalam setiap detail musikal.

Jey Denise
Jey Denise

Sentuhan akhir dipercayakan kepada Thomas “J.Soul” Burrough yang menghadirkan kualitas terbaik melalui mixing dan mastering, sehingga menghasilkan karya yang solid secara teknis sekaligus kuat dalam pesan.

Jey Denise sendiri bukan nama baru di dunia musik. Ia telah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di industri ini, dan sejak 2017 dikenal sebagai artis vokal-gitar looping yang tampil rutin di berbagai bar, kafe, dan klub di Jakarta.

Dengan persiapan matang di setiap penampilan, ia membangun reputasi sebagai musisi yang menghadirkan standar baru dalam dunia looping di Indonesia.

Jey Denise
Jey Denise

Kini, kariernya merambah panggung internasional dengan tampil sebagai musisi di kapal pesiar berbasis Amerika Serikat. Langkah ini menjadikannya salah satu solois perempuan pertama dari Indonesia yang menorehkan prestasi di jalur tersebut.

Popularitasnya semakin meningkat setelah konten mengenai kehidupannya sebagai musisi di kapal pesiar viral di media sosial, khususnya Instagram.

Sebelum merilis “No. 1 Priority”, Jey Denise telah memperkenalkan single perdananya berjudul “Lemme Out” pada Juli 2024.

Jey Denise
Jey Denise

Lagu tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam menghadirkan karya yang relevan dengan perkembangan musik modern, sekaligus memperkuat posisinya sebagai musisi independen yang produktif.

Dengan dua rilisan ini, Jey semakin menegaskan identitasnya sebagai musisi yang mampu menyatukan pengalaman personal dengan tema universal yang menginspirasi.

Saat ini, single “No. 1 Priority” milik Jey Denise sudah tersedia dan dapat didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

Difki Khalif dan Prinsa Mandagie remake lagu “Seandainya”

0
Difki Khalif dan Prinsa Mandagie berkolaborasi dalam proyek spesial untuk menghidupkan kembali lagu populer era 2000-an, “Seandainya”. Kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas lagu yang telah melekat di memori banyak pendengar.
Seandainya Artwork
Seandainya Artwork

Proyek ini terwujud melalui kolaborasi lintas label antara Musica Studios dan Sony Music yang membuka ruang bagi para artis untuk menafsir ulang karya-karya populer. Dari beberapa pilihan lagu, Prinsa Mandagie menjatuhkan hati pada “Seandainya”, karya band era 2000-an Vierratale (yang sebelumnya dikenal sebagai Vierra).

“Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkap Prinsa Mandagie. Lagu tersebut memang menjadi salah satu anthem galau yang mewarnai masa remaja generasi 2000-an.

Kolaborasi Prinsa Mandagie dengan Difki Khalif, yang memiliki latar belakang sebagai anak band, menjadi elemen penting dalam proses kreatif ini. Sebagai dua solois dengan karakter vokal berbeda, mereka menjalani workshop untuk menemukan chemistry serta pembagian bagian vokal yang paling harmonis.

Difki Khalif dan Prinsa Mandagie
Difki Khalif dan Prinsa Mandagie

“Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis,” jelas Difki.

Meski berasal dari latar musikal yang berbeda, keduanya justru menemukan energi baru dalam proyek ini. Aransemen “Seandainya” dibuat lebih emosional dan segar dengan tambahan sentuhan orkestra, memperkuat karakter pop-rock yang ingin mereka hadirkan.

Bagi Prinsa, pengalaman ini terasa berbeda dari karya-karyanya yang biasanya bernuansa dewasa dan sentimental. “Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri,” katanya.

Kolaborasi ini juga menjadi ruang belajar bagi keduanya. Prinsa mengeksplorasi sisi lain dari jangkauan vokalnya, sementara Difki beradaptasi dengan dinamika duet yang menjadi pengalaman baru baginya. Proses harmonisasi vokal dirancang oleh Barsena Bestandhi, yang memastikan dua warna suara berbeda tersebut dapat menyatu dengan mulus.

Difki Khalif dan Prinsa Mandagie
Difki Khalif dan Prinsa Mandagie

Proses kreatifnya tidak selalu mudah. Mereka mencoba berbagai opsi pembagian suara, menyesuaikan range dan karakter masing-masing hingga menemukan keseimbangan yang tepat. Perbedaan justru menjadi kekuatan yang membuat versi ini terasa segar dan unik.

Momen paling berkesan terjadi saat sesi preview akhir. Ketika aransemen lengkap termasuk elemen orkestra mulai terdengar utuh, keduanya merasakan lagu ini menemukan bentuk barunya: emosional, enerjik, namun tetap mempertahankan esensi lagu aslinya. Seperti yang diungkapkan Prinsa, “Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar.”

“Seandainya” versi Difki Khalif dan Prinsa Mandagie sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital di Februari 2026.