Daisy Hera baru saja merilis single terbaru berjudul “Let Me Go” pada 28 April 2026 lalu. Lagu yang bercerita tentang perasaan yang terjebak dalam sebuah hubungan ketika salah satu dari mereka sadar bahwa bertahan justru terasa semakin menyakitkan itu diangkat Daisy Hera ke dalam lagu yang menjadi karya anyarnya.
Artwork Let Me Go
Lagu “Let Me Go” ini menggambarkan sudut pandang seseorang yang ingin mengakhiri hubungan, bukan karena pasangannya berbuat salah, tetapi karena dirinya sendiri sudah tidak lagi merasa bahagia di dalamnya. Ada rasa bersalah, keraguan, dan ketakutan untuk menyakiti seseorang yang sebenarnya tidak pantas disakiti. Melalui “Let Me Go”, Daisy Hera mencoba menerjemahkan konflik emosional tersebut ke dalam lirik yang jujur dan atmosfer musik yang melankolis.
“Let Me Go” menjadi single pembuka dari EP terbaru Daisy Hera yang akan datang, berjudul “Silence’. Melalui EP ini, Daisy mencoba mengungkapkan berbagai suara hati yang selama ini ia simpan dalam diam melalui rangkaian lagu yang lebih personal.
Daisy Hera
“Kadang kita cuma butuh satu lagu yang bisa bilang apa yang tidak bisa kita ucapkan,” ujar Daisy Hera.
Ada saat-saat dalam sebuah hubungan ketika seseorang menyadari bahwa bertahan hanya akan membuat segalanya lebih menyakitkan. Perasaan terjebak dalam situasi seperti itulah yang dieksplorasi Daisy Hera dalam single terbarunya, “Let Me Go”.
Daisy Hera
“Let Me Go” berfungsi sebagai single utama dari EP Daisy Hera yang akan datang, Silence. Melalui proyek ini, Daisy mengungkapkan suara-suara batin yang telah lama ia pendam, disampaikan melalui kumpulan lagu-lagu yang sangat pribadi.
Grup musik jazz fusion pop ‘Spirit Band 86’ resmi menandai kebangkitannya di industri musik Indonesia melalui peluncuran ulang karya lama dalam kemasan aransemen baru yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman. Comeback yang dimulai sejak 2025 ini menjadi langkah strategis untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pendengar muda dari Generasi Z.
Spirit Band 86’
Didirikan pada tahun 1986 oleh Eramono Soekaryo, Spirit Band 86 dikenal sebagai bagian dari geliat musik jazz Indonesia pada era 1980 hingga 1990-an. Band ini sempat merilis sejumlah karya, termasuk album “Mentari (1992)”, sebelum akhirnya vakum pada 1996. Kini, hampir tiga dekade kemudian, mereka kembali hadir dengan semangat baru.
Mengusung konsep “produk lama rasa baru”, Spirit Band 86 mengaransemen ulang lagu-lagu lama dengan pendekatan musikal yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas khas mereka.
“Kami membawa konsep ‘produk lama rasa baru’. Lagu-lagu lama kami aransemen ulang dengan pendekatan yang lebih kekinian, namun tetap menjaga warna jazz fusion sebagai identitas utama,” ujar Eramono Soekaryo, leader Spirit Band 86.
Dalam formasi terbarunya, Spirit Band 86 diperkuat oleh: Adrian Eramono (gitar), Jay Danu Prasetyo (keyboard & synthesizer), Lili Amelia (vokal) dan Eramono Soekaryo (keyboard). Formasi lintas generasi ini menjadi kekuatan baru yang memadukan pengalaman musikal dengan energi segar.
Spirit Band 86’
Single terbaru bertajuk “Hanya Gairah”, yang diambil dari album “Mentari”, menjadi penanda fase baru perjalanan mereka. Lagu ini dihadirkan kembali dengan aransemen yang lebih dinamis, termasuk perubahan tempo dan pendekatan ritmis yang lebih modern.
“Kalau dulu nuansanya lebih ‘shuffle’ klasik, sekarang kami buat lebih cepat dan mengikuti pendekatan musik internasional,” jelas Eramono.
Secara lirik, “Hanya Gairah” mengangkat kisah tentang dinamika hubungan dua sahabat yang berkembang menjadi cinta, terinspirasi dari pengalaman personal serta lingkungan pergaulan musisi pada masanya.
Selain merilis ulang karya lama, Spirit Band 86 juga tengah menyiapkan materi baru. Re-aransemen katalog lama menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat identitas sekaligus mengoptimalkan distribusi digital dan potensi royalti di berbagai platform streaming.
Spirit Band 86’
“Kami ingin memastikan karya lama kami hadir kembali dengan kualitas produksi yang sesuai standar saat ini, serta lebih optimal dalam distribusi digital,” tambahnya.
Band ini juga bertujuan menyasar Generasi Z, yang kini menunjukkan minat tinggi terhadap musik era terdahulu yang dikemas ulang. Fenomena ini membuka peluang besar bagi Spirit Band 86 untuk kembali relevan di industri musik saat ini.
Ke depan, Spirit Band 86 berencana aktif tampil di berbagai panggung, termasuk festival jazz nasional hingga tur kafe, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai musisi dan pelaku industri.
“Kami pada dasarnya adalah pemain. Tampil di panggung tetap menjadi prioritas utama, selain terus berkarya di studio,” tutup Eramono.
Dengan semangat baru dan formasi lintas generasi, Spirit Band 86 optimistis dapat kembali diterima oleh pendengar lama maupun generasi baru.
“Musik tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu yang tepat untuk didengar kembali.”
Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan pertunjukan seni melalui pementasan pertunjukan satu orang (one man show) “Dapur Sumur Tutur”, sebuah karya yang menyoroti dinamika perempuan lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi. Karya yang diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening ini dipentaskan oleh Putri Ayudya, seorang aktor yang telah dua kali dinominasikan sebagai Pemeran Wanita Terbaik FFI dan meraih Piala Maya.
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya
Selama kurang lebih satu jam, penikmat seni Galeri Indonesia Kaya diajak menyelami kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga yang hadir dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung. Melalui sudut pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak, pertunjukan ini menghadirkan dialog batin tentang tradisi, relasi keluarga, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pendekatan pertunjukan satu orang yang bersifat imersif, karya ini menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif bagi penonton.
“Pementasan “Dapur Sumur Tutur” hari ini sejalan dengan komitmen Galeri Indonesia Kaya untuk menghadirkan karya seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui cerita yang personal dan pendekatan artistik yang kuat, kami berharap pertunjukan ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya yang terus berlangsung,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya
Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” berangkat dari kegelisahan generasi milenial perempuan Jawa terhadap tradisi yang seringkali diwariskan tanpa pemaknaan ulang. Dalam banyak kisah, nilai-nilai tersebut diteruskan tanpa memahami akar dan konteksnya, sehingga sulit diadaptasi dengan perubahan zaman dan berpotensi menimbulkan generational trauma. Pergeseran ranah perempuan dari konco wingking menjadi mitra sejajar dalam kehidupan modern turut menjadi benang merah dalam pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya ini.
Selain itu, isu sandwich generation dan ageism diangkat sebagai refleksi kondisi sosial saat ini, ketika jumlah populasi lansia terus meningkat, sementara jumlah usia produktif semakin terbatas. Situasi ini membuat generasi muda harus memikul beban ekonomi sekaligus perawatan keluarga yang lebih besar, di tengah keterbatasan akses pekerjaan dan kemandirian bagi kelompok usia lanjut. Dalam konteks ini, perempuan kerap berada di garis depan, tidak terlepas dari nilai dan tradisi yang menempatkan mereka sebagai pengurus utama orang tua di masa tua. Realitas ini mencerminkan kuatnya ekspektasi gender yang menempatkan perempuan sebagai caretaker utama dalam keluarga.
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya
Putri Ayudya selaku aktor tunggal di pertunjukan ini menuturkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal dan hasil riset bersama tim kreatif. “Kisah ini berangkat dari kegelisahan sebagai perempuan Jawa generasi milenial. Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang perempuan Jawa, generational trauma, serta proses reparenting. Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari yang semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang bertutur dan menyuarakan pengalaman.”
Sementara itu, Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan, “Pemilihan tiga generasi perempuan dan latar peringatan seribu hari kematian memiliki makna simbolis. Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang. Di situlah kita melihat bagaimana nilai, luka, dan cara pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pertunjukan ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana.”
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya
Ben Bening selaku Sutradara menambahkan, “Hari ini kita sering merasa perempuan sudah lebih bebas dibandingkan sebelumnya. Namun, pertanyaannya adalah apakah kebebasan itu benar-benar utuh? Apakah perempuan sudah benar-benar bebas dalam menentukan mimpi, pilihan hidup, dan ruang yang ingin ia tempati, baik di pekerjaan, keluarga, maupun dalam tradisi? Pertunjukan ini berangkat dari pertanyaan tersebut, yang bagi kami akan selalu relevan, sudahkah perempuan benar-benar bebas?”
Pertunjukan yang ditulis oleh ketiga kreator ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan akting, tetapi juga didukung oleh elemen artistik seperti lagu latar dan efek suara yang dikomposisikan oleh Taufan Iskandar, tata cahaya, serta elemen visual yang ditampilkan melalui layar, yang dikembangkan dengan menggabungkan perspektif personal dan hasil riset masing-masing kreator. Keseluruhan elemen ini dirancang untuk memperkuat atmosfer pementasan dan membantu penonton menyelami emosi serta dinamika antar generasi yang dihadirkan dalam karya ini.
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya
Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April. Kedepannya, Galeri Indonesia Kaya akan terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs IndonesiaKaya.com.
Dinda Ghania membuktikan produktivitasnya sebagai anak muda bertalenta lewat single “Relung Hati”, sebuah kolaborasi lintas musisi yang diciptakan khusus oleh Yovie Widianto.
Dinda Relung Hati Artwork
Menurut Yovie Widianto, secara tematik lagu ini mengangkat dinamika hubungan yang penuh cinta namun menyimpan luka. Dinda Ghania berhasil menginterpretasikannya melalui komposisi yang mengedepankan orkestra.
“Kalau dari POV aku, ‘Relung Hati’ menceritakan tentang dua pasangan yang saling sayang, tapi ujung-ujungnya malah nyakitin satu sama lain,” ujar Dinda Ghania.
Lagu ini menjadi penanda kolaborasi istimewa antara Yovie Widianto dan Dinda Ghania. Dinda adalah solois muda sekaligus pencipta lagu yang produktif sejak tahun 2022. Yovie Widianto berharap kolaborasi ini menghadirkan interpretasi segar dari generasi baru tanpa menghilangkan ciri khas karyanya.
“Saya memang ingin lagu ini dibawakan oleh seorang penyanyi yang dia juga penulis lagu dan masih muda. Ini awal mula tujuan saya kenapa ada lagu “Relung Hati”,” ujar Yovie Widianto.
“Sejujurnya sejak awal, saya sangat menyukai karakter vokal Dinda Ghania yang sederhana, tak dibuat-buat tapi tetap emosional,” tambah Yovie Widianto.
Salah satu kekuatan “Relung Hati” terletak pada produksi orkestratif yang menghidupkan kembali nuansa klasik melalui instrumen asli yang dimainkan langsung oleh Budapest Scoring Orchestra. Pendekatan ini menjadikan “Relung Hati” sebuah karya musikal yang kaya tekstur dan emosi, didukung vokal yang berkarakter dari Dinda Ghania.
“Walaupun teknologi semakin maju, hasil instrumen yang lahir dari tangan manusia selalu punya nilai tersendiri dan tak akan lekang oleh waktu. Ini alasan saya masih menggunakan kelompok instrumen orkestra yang asli,” tegas Yovie Widianto.
Pendekatan ini menjadikan ‘Relung Hati’ tidak hanya sebagai lagu pop biasa, tetapi juga sebuah karya musikal yang kaya tekstur dan emosi. Pembawaan vokal merdu nan sederhana dari Dinda Ghania juga menjadikan lagu ini semakin terasa istimewa.
Untuk proses pembuatannya, Yovie Widianto dibantu penuh oleh Ari Renaldi untuk aransemen string section lagu “Relung Hati” hingga proses mixing dan mastering-nya. Sedangkan untuk orkestranya, Yovie Widianto mempercayakan kepada Budapest Scoring Orchestra yang direkam di Artsounds Studio Jakarta.
Dinda Ghania adalah anak muda bertalenta yang terus berkembang di industri musik Indonesia. Dengan karakter vokal yang khas dan pendekatan emosional yang kuat, Dinda Ghania mampu menghadirkan interpretasi yang terasa jujur dan relevan dalam setiap karyanya.
Dengan karyanya yang bertajuk “Relung Hati”, ini menjadi salah satu bukti bagaimana Dinda Ghania mampu mengolah materi lagu dengan kedalaman rasa, sekaligus tetap mempertahankan identitas musikalnya sebagai penyanyi dan penulis lagu muda.
Dinda Ghania dan Yovie Widianto
Sejak awal perjalanan kariernya, Dinda Ghania telah menunjukkan konsistensi dalam berkarya serta keberanian untuk mengeksplorasi berbagai warna musik. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu talenta generasi baru yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan memberi warna di industri musik Indonesia.
Single kolaborasi ini terbukti sukses memikat masyarakat sejak dirilis 13 Februari 2026. Video klip resminya yang tayang 15 April 2026 di kanal YouTube Yovie Widianto kini telah menembus 860 ribu views, sementara video liriknya mencapai 1,4 juta views.
“Rasanya pasti senang banget dan sangat bersyukur, karena aku bisa dapat kesempatan hebat ini. Aku akhirnya bisa bangga sama diri aku sendiri dan tentunya dari didikan dari Om Yovie,” ungkap Dinda Ghania.
Ke depannya, Dinda Ghania yang selama ini merilis single demi single mengungkapkan keinginannya untuk segera menggarap album penuh. Sebab menurut Dinda Ghania, bagaimana pun juga, pencapaian terbaik seorang musisi adalah mempunyai album.
“Someday, cepat atau lambat aku pasti bakal keluarin album perdanaku. Harapannya semua lagunya adalah ciptaanku dan tetap bisa dalam pengawasan musikal dari Om Yovie,” pungkas Dinda Ghania.
Sekadar diketahui, Dinda Ghania adalah penyanyi dan aktris muda asal Indonesia yang mulai dikenal publik sejak usia belia melalui karya-karya musik pop remaja yang relatable dan mudah diterima generasi muda.
Lahir di Jakarta pada 10 November 2009, Dinda Ghania memulai karier profesionalnya sekitar tahun 2020 dan dengan cepat menarik perhatian lewat lagu-lagu yang viral di media sosial, sekaligus menunjukkan konsistensi dalam merilis karya musik setiap tahunnya.
Selain berkarier di dunia tarik suara, Dinda merambah seni peran melalui film Adagium (2023). Kombinasi bakat dan usia mudanya menjadikan Dinda Ghania salah satu talenta Gen Z menjanjikan yang terus berkembang di industri musik dan film Indonesia.
Sebagai anak muda bertalenta yang dikenal produktif, sebelum single “Relung Hati Feat. Yovie Widianto”, Dinda Ghania telah mempunyai rilisan karya hingga 13 single: ‘Berteman Saja‘ (2022), ‘I Love You Bunda‘ (2022), ‘Kunci Hati Feat. Dewa Tahier‘ (2022), ‘Sempurna Feat. Andra Ramadhan’ (2022), ‘Teman Rasa Pacar‘ (2022), ‘Kamu Bukan Sejarah‘ (2022), ‘Janji Pada Hati‘ (2023), ‘Pelan-Pelan Melupakan Feat. Aan Story‘ (2024), ‘Unfinished‘ (2024), ‘Backseat Memories‘ (2025), ‘Jangan Pernah Berubah Feat. Melly Goeslaw‘ (2025), ‘Here’s To Us‘ (2025), dan ‘Never True‘ (2025).
Freshman Fair 2026 adalah sebuah giat musikal antar jurusan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Pentas musik ini di inisiasi oleh Eric Sudrajat yang juga bertindak sebagai Project Officer Freshman Fair 2026, tetapi juga sebagai musisi muda yang konsisten menghadirkan energi musikal ke dalam ruang-ruang kolektif mahasiswa.
Eric Sudrajat
Di balik perhelatan Freshman Fair 2026, Eric Sudrajat membawa pendekatan yang berbeda: menjadikan acara kampus sebagai medium ekspresi musikal yang hidup, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
“Musik itu punya kekuatan untuk menyatukan. Lewat acara ini, saya ingin teman-teman bukan cuma hadir, tapi juga merasakan, tampil, dan berani berekspresi,” ujar Eric Sudrajat.
Sebagai drummer yang telah menekuni musik sejak usia dini, Eric Sudrajat membangun fondasi musikalnya dari latihan, kompetisi, hingga pengalaman tampil di berbagai panggung. Baginya, musik bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal karakter, rasa, dan identitas.
Perjalanan tersebut kemudian ia terjemahkan ke dalam konsep Freshman Fair 2026 yang menghadirkan panggung musik lintas jurusan sebagai salah satu daya tarik utama. Tidak hanya satu genre, Eric membuka ruang bagi eksplorasi berbagai warna musik mulai dari pop hingga rock yang dikemas lebih “easy listening” agar dekat dengan audiens kampus.
“Setiap musisi punya ciri khas. Yang penting bukan sekadar jago, tapi bagaimana kita membawa karakter itu ke panggung,” katanya.
Freshman Fair 2026
Dalam acara tersebut, delapan band perwakilan jurusan tampil berdampingan dengan satu band utama dari komunitas musik teknik, menciptakan atmosfer kolaboratif yang jarang ditemui dalam kegiatan kampus pada umumnya.
Bagi Eric, panggung seperti ini adalah titik awal lahirnya kepercayaan diri.
“Banyak musisi kampus sebenarnya punya potensi besar, tapi belum punya panggung. Di sini mereka bisa mulai, bisa dikenal, dan yang paling penting, bisa berkembang,” ujarnya.
Tidak berhenti pada performa, Eric juga menekankan pentingnya adaptasi musisi dengan perkembangan era digital. Ia menyebut eksposur dan konsistensi karya sebagai faktor penting dalam membangun perjalanan musik yang berkelanjutan.
“Sekarang musisi harus punya value. Selain skill, juga harus aktif berkarya dan membangun audiens. Itu yang bikin kita bisa bertahan,” kata Eric.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa teknik, Eric tetap menjaga ritme bermusik dengan disiplin membagi waktu antara akademik, organisasi, dan proses kreatif. Saat ini, ia bersama bandnya tengah menyiapkan materi lagu yang direncanakan masuk tahap rekaman dalam waktu dekat.
Eric Sudrajat
Melalui Freshman Fair 2026, Eric ingin meninggalkan lebih dari sekadar acara, ia ingin membangun ekosistem.
“Harapannya, ini jadi budaya. Bahwa kampus bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat lahirnya karya dan musisi,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang memadukan musikalitas dan kolaborasi, Eric Sudrajat menunjukkan bahwa energi musik tidak hanya hidup di panggung profesional, tetapi juga tumbuh kuat dari ruang-ruang kampus tempat di mana generasi baru menemukan suaranya.
Sineas legendaris Indonesia, Oleg Sanchabakhtiar, hadir kembali di dunia visual musik Indonesia dengan sebuah konsep dan Intellectual Property yang penuh muatan edukasi dan kreatifitas yang di bungkus dalam sebuah ajang penghargaan video musik Indonesia bertajuk “Indonesian Music Video Awards” yang disingkat sebagai IMVA.
Oleg Sanchabakhtiar
Bertindak sebagai pendiri sekaligus Creative Director IMVA, Oleg Sanchabakhtiar menjelaskan bahwa IMVA digelar sebagai festival musik video nasional yang memfokuskan pada kualitas artistic video, inovasi dan banyak hal barbasiskan seni lainnya. IMVA hadir kembali di era ini untuk memberikan ruang apresiasi yang lebih luas terhadap karya video musik Indonesia.
Melalui IMVA, Oleg Sanchabakhtiar tergerak untuk sekaligus memperkuat posisi profesi di balik produksi sebuah video musik, karena dibalik layar sebuah produk video musik itu ada profesi seperti sutradara, DOP, sinematografer, editor, dan lainnya yang seharusnya diakui sebagai bagian penting dalam ekosistem industri musik pada umumnya dan industri video musik khususnya.
“IMVA digelar untuk menegaskan bahwa video musik bukan sekadar pelengkap lagu, tetapi sebuah karya kreatif yang memiliki standar artistik, teknis, dan nilai industri yang tinggi,” terang Oleg Sancabakhtiar.
Di rintis sejak tahun 2013, seiring dengan tumbuhnya komunitas kreator video di Indonesia, Oleg berusaha mengkurasi dan melakukan penilaian berbasis standar profesional, seluruh sistem kompetisi, kategori penghargaan, serta mekanisme penjurian oleh Oleg dengan sangat serius.
Oleg Sanchabakhtiar
“Penjurian tidak harus melihat video sebagai satu kesatuan saja, karena kita kurasi berdasarkan peran DOP, editor, stylist, dan lainnya. Dasar penilaian sudah ada di website, mengacu pada standar internasional, nasional, hingga penggunaan AI. “Untuk karya berbasis AI, wajib melampirkan prompt, karena itu bagian dari directing”, jelas Oleg tentang penggunaan AI di dalam pembuatan video musik.
Seluruh karya video musik yang masuk akan melalui proses kurasi dan penilaian oleh dewan juri yang terdiri dari praktisi musik, kreator visual, serta tokoh dari berbagai bidang terkait. Dalam pelaksanaannya, IMVA mengedepankan standar penilaian yang mencakup aspek artistik, sinematografi, kreativitas, serta kekuatan storytelling. Sistem ini dirancang agar selaras dengan praktik festival internasional, sehingga karya kreator Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di tingkat global. Nanti Kita bisa ikut sertakan di tingkat international sesuai dengan karakteri dan syarat yang ada di aturan International”, ujar Oleg.
Ke depan, IMVA diharapkan dapat menjadi wadah berkelanjutan dalam mendorong pertumbuhan industri video musik di Indonesia, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi talenta baru untuk berkembang secara profesional.
Oleg Sanchabakhtiar
“Indonesia memiliki banyak kreator berbakat. Melalui IMVA, kami ingin menghadirkan panggung yang mampu menghubungkan kreativitas tersebut dengan standar industri yang lebih luas,” tutup Oleg.
Untuk informasi pendaftaran, aturan main dan lain – lain check di :
Kancah musik rock Indonesia kembali kedatangan kekuatan baru. Gerimis, sebuah supergroup hard rock yang dihuni oleh musisi lintas generasi dengan rekam jejak panjang, resmi merilis single perdana mereka berjudul “So Lonely” pada 22 April 2026 melalui Musicblast.id dan seluruh platform digital.
So Lonely Cover
Terbentuk pada 14 Februari 2026 di kawasan Kota Tua Jakarta, Gerimis lahir dari pertemuan yang tak direncanakan di tengah sebuah festival musik. Dari obrolan santai yang berkembang serius, terbentuklah sebuah formasi solid yang menggabungkan pengalaman puluhan tahun di industri musik Indonesia.
Di lini depan Gerimis, Amirzidane (Muhammad Amirudin) hadir sebagai vokalis dengan perjalanan panjang sejak era 90-an, pernah menjadi kru Slank, vokalis Keraton, Jaddah Slank, hingga solois dengan pengalaman tampil di berbagai panggung besar seperti Soundrenaline, Java Jazz, hingga menjadi opening act konser Slank bersama Iwan Fals.
Sementara itu, sektor gitar Gerimis diisi oleh Luciano (Bule), seorang sound engineer sejak tahun 2000 sekaligus gitaris The Sign, bersama Ary yang memperkuat karakter permainan gitar band ini. Di bagian beat, nama Jaka Jackers (Jaka Hidayat) membawa kredibilitas sebagai mantan drummer Wahh Band, Power Slaves, dan BIP, berpadu dengan Obin dari Steven Jam yang menghadirkan fondasi bass yang solid dan berkarakter.
Gerimis dan team kreatif Presscon
Dengan latar belakang tersebut, Gerimis tampil sebagai supergroup dengan DNA rock 90-an yang kuat, namun dikemas ulang dengan pendekatan yang relevan untuk era sekarang, menggabungkan energi klasik dengan sentuhan modern.
Single perdana “So Lonely” lahir dari pengalaman personal yang sederhana namun sangat relate, menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Lagu ini menjadi medium untuk mengekspresikan kegelisahan, kekecewaan, dan rasa kesendirian yang jujur.
Adrian Sidharta
Ditulis oleh Amirzidane, lagu ini mengangkat tema bahwa dalam kondisi tertentu, kesendirian bukan hanya soal fisik, tetapi juga emosional. Secara musikal, lagu ini menawarkan perpaduan antara nuansa rock 90-an dengan pendekatan produksi modern. Aransemen gitar yang sederhana namun kuat berpadu dengan elemen keyboard bernuansa vintage ala 70-an, menciptakan warna yang khas dan berbeda di tengah lanskap musik saat ini.
Menambah kekuatan lagu ini, Gerimis menggandeng Adrian Sidharta sebagai featuring, figur penting yang dikenal sebagai kibordis Slank di era awal (1985–1988), sekaligus kakak dari drummer legendaris Bimbim Slank. Kehadiran Adrian menghadirkan elemen keyboard yang khas, memperkuat karakter musikal lagu ini.
Gerimis
Di balik layar, nama Bayu Randu hadir sebagai produser, sosok yang dikenal melalui karyanya bersama band-band cadas Indonesia seperti Edane, Funky Kopral, Voodoo, Prison Of Blues, dan berbagai proyek rock lainnya. Menambah kekuatan dan color lagu ini menjadi lebih presisi.
“Kita butuh Mas Adri bukan buat sok-sokan, tapi karena kebutuhan lagunya. Kita butuh sesuatu yang ‘jreeenggg’, semacam unsur Hammond dan synth di lagu, untuk memperkuat karakter dan kebutuhan lagu”, terang Bayu Randu.
Gerimis
Tak hanya itu, lagu ini juga menghadirkan warna tambahan melalui backing vokal dari Weni Piranha, penyanyi asal Magelang yang memberikan lapisan emosional yang lebih dalam pada keseluruhan aransemen. Proses rekaman dilakukan di Starlight Studio dan Musicblast Studio, dengan pendekatan yang organik di mana materi yang dilatih berkembang secara spontan saat proses rekaman berlangsung, menghasilkan energi yang lebih hidup dan jujur.
Sebagai supergroup yang baru terbentuk, Gerimis tidak hanya menawarkan pengalaman, tetapi juga perspektif baru dalam musik rock Indonesia.
Dengan kombinasi pengalaman, karakter kuat, serta pendekatan musikal yang matang, “So Lonely” menjadi langkah awal Gerimis untuk menancapkan identitas mereka di industri musik tanah air.
Trailer film “Tumbal Proyek” produksi Dee Company resmi dirilis dan langsung memperlihatkan nuansa horor yang pekat sejak awal. Film ini mengangkat cerita yang beredar di masyarakat tentang sisi gelap di balik proyek-proyek besar, termasuk pembangunan Jembatan Surabaya–Madura atau Suramadu, yang sejak lama kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis dan tumbal manusia.
Presscon film “Tumbal Proyek”
Lewat trailer perdananya, “Tumbal Proyek” tidak hanya menawarkan teror visual, tetapi juga membawa lapisan cerita yang emosional. Film ini menyoroti kisah keluarga yang terus menunggu kabar orang terdekat yang hilang, tanpa pernah mendapat kepastian dan tanpa pernah bisa menguburkan mereka dengan layak.
Tema kehilangan menjadi salah satu kekuatan utama dalam film ini. Di tengah suasana mencekam dan misteri yang perlahan terbuka, “Tumbal Proyek” menghadirkan rasa duka yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Penantian, luka batin, dan ketidakpastian menjadi bagian penting yang membangun emosi cerita.
Karina Suwandi, Jeropoin, Keisya Alvaro
Film ini juga memadukan unsur horor, misteri, dan drama emosional dalam satu alur yang saling menguatkan. Teror yang muncul tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari cerita manusia yang penuh trauma dan kehilangan. Karena itu, “Tumbal Proyek” hadir bukan sekadar sebagai film horor, tetapi juga sebagai kisah tentang keluarga, harapan yang tertahan, dan luka yang belum selesai.
Dengan premis yang dekat dengan cerita tutur di tengah masyarakat, “Tumbal Proyek” mencoba membawa mitos yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut ke layar lebar dalam bentuk yang lebih dramatis dan sinematis. Trailer film ini pun menjadi pintu awal bagi penonton untuk masuk ke dalam misteri besar yang menyelimuti hilangnya nyawa di balik sebuah proyek pembangunan.
Presscon film “Tumbal Proyek”
Melalui trailer yang telah dirilis, “Tumbal Proyek” menjanjikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional penonton. Film ini memperlihatkan bagaimana ketakutan bisa lahir bukan hanya dari sosok tak kasatmata, tetapi juga dari kehilangan yang terus menghantui orang-orang yang ditinggalkan. Saksikan Film Tumbal Proyek yang akan tayang mulai 13 Mei 2026 di Bioskop.
Bertepatan dengan momen penuh makna Hari Kartini, penyanyi muda berbakat Alala Zahra resmi merilis single perdananya yang berjudul “Bundaku Tersayang”, sebuah karya musik pop akustik yang hangat, emosional, dan menyentuh hati. Mengusung genre Pop Akustik, lagu ini menghadirkan nuansa yang intim dan autentik.
melalui penggunaan instrumen musik akustik seperti gitar akustik, perkusi, violin, viola, cello, hingga contra bass. Aransemen yang sederhana namun kuat menghadirkan “feel” yang khas dan berkarakter, menjadikan lagu Alala Zahra ini mudah diterima oleh berbagai kalangan terutama mereka yang memiliki kedekatan emosional dengan sosok ibu.
“Bundaku Tersayang” mengisahkan tentang bakti dan cinta seorang anak kepada ibunya, yang ingin terus membahagiakan dan membalas kasih sayang tanpa batas sepanjang
hidupnya. Lagu Alala Zahra ini menjadi refleksi perasaan universal yang bisa dirasakan oleh siapa saja baik sebagai anak maupun sebagai sosok ibu.
Alala Zahra
Dengan lirik yang tulus dan aransemen yang menyentuh, lagu yang dinyanyikan Alala Zahra ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan besarnya pengorbanan seorang ibu, sekaligus menjadi penyemangat spiritual dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Single ini diproduksi secara serius dengan melibatkan nama-nama berpengalaman di industri
Musik : Executive Producer: Okii Syarif & Icha Anwar (Chakiiyama Production), Music Producer & Songwriter: Edward Faisal, Mixing & Mastering: Reggie Chasmala.
Dirilis di bawah naungan indie label Chakiiyama Production, karya ini menjadi langkah awal yang kuat bagi perjalanan musikal Alala Zahra.
Alala Zahra
Melalui perilisan single ini, Alala Zahra berharap lagu “Bundaku Tersayang” dapat Menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai dan menghargai orang tua, Menjadi sumber energi positif dan semangat dalam menjalani kehidupan dan Mengingatkan kembali akan pentingnya peran ibu dalam kehidupan setiap individu
“Semoga lagu ini bisa jadi teman untuk semua yang ingin selalu mengingat dan membahagiakan bundanya,” ungkap Alala.
Dengan kombinasi bakat, dedikasi, dan pesan yang kuat, “Bundaku Tersayang” bukan sekadar lagu debut melainkan sebuah karya yang berpotensi menjadi anthem cinta untuk ibu bagi banyak orang. Single ini kini telah tersedia di seluruh Digital Streaming Platform, dan video liriknya dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Alala Zahra.
Terbentuk di Bogor, Indonesia sejak 2008, ‘Criatura’ adalah manifestasi dari ketakutan, pemberontakan, dan siklus hidup kematian yang dituangkan dalam balutan symphonic metal. Menggabungkan atmosfer gelap dengan elemen orkestrasi yang megah, Criatura menghadirkan lanskap sonik yang tidak hanya agresif, tetapi juga sarat makna dan narasi.
Cover Album “In the Silence of the Dawn”
Setelah perjalanan panjang dalam keheningan, Criatura kini bersiap membuka babak baru melalui album terbaru mereka “In the Silence of the Dawn” yang dirilis oleh Surau Records. Sebuah karya konseptual yang menggali tema kehancuran, kesadaran, dan kelahiran kembali dalam dunia tanpa harapan di mana keheningan bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Sebagai langkah awal, Criatura merilis single perdana berjudul “Victory”, yang akan hadir dalam format lyric video animasi melalui YouTube.
“Victory” bukan sekadar lagu tentang kemenangan dari Criatura. Ini adalah deklarasi takdir, sebuah narasi tentang runtuhnya dunia lama dan bangkitnya entitas baru dari kehampaan. Dengan lirik yang sarat simbolisme, lagu ini mengangkat tema nubuat, kehancuran, dan transformasi: “Victory — determined destiny, Glory burns eternally…”
Criatura
Didukung oleh komposisi yang epik, atmosfer gelap, serta aransemen yang sinematik, “Victory” menjadi pintu gerbang menuju dunia “In the Silence of the Dawn”, sebuah fase di mana manusia berhenti berharap dan mulai bangkit sebagai bagian dari sesuatu yang lebih gelap dan abadi.
Visual lyric video yang menyertainya akan memperkuat pengalaman ini melalui pendekatan sinematik, menghadirkan elemen dan simbol-simbol ritual yang selaras dengan identitas Criatura.
Criatura
Dengan perilisan ini, Criatura tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga membangun sebuah dunia di mana setiap rilisan adalah bagian dari narasi yang lebih besar.
“Born in silence. Crowned in victory.”
Single “Victory” telah tersedia di kanal resmi Criatura dan Surau Records.